Jumat, 03 Januari 2014

Biogas Energy Terbarukan Manfaat Ekonomi Biogas

Biogas Energy Terbarukan
Manfaat Ekonomi Biogas
Bambang Ryadi Soetrisno, Edy Hendras Wahyono */, Eddy Santoso, Iman Sapari, dan Ahmad Fauzi **/
*/ YAPEKA (Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Konservasi Alam), Bogor Jawa Barat Indonesia
**/YAYORIN (Yayasan Orangutan Indonesia), Pangkalan Bun Kalimantan Tengah Indonesia
 Ringkasan:
Biogas dengan ukuran 4 m3 terletak di Kampung Konservasi Yayorin Pangkalan Bun, dan ukuran 8 m3 terletak di Kebun Petani Sengon desa Pasir Panjang Pangkalan Bun telah dibangun sebagai Demonstration Plot percontohan jika masyarakat memerlukan informasi tentang teknologi biogas dan energy alternative lainnya.
Pesan utama yang ingin disampakan dari demplot biogas di Yayorin Pangkalan Bun adalah menyampaikan manfaat ekonomi yang akan menjadi acuan untuk menyampaikan pesan positif dan keuntungan dalam mengembangkan penggunaan biogas sebagai energy alternative terbarukan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Pesan positif yang dikembangkan akan berkaitan dengan keuntungan secara ekonomi yang akan menjadi insentif untuk masyarakat jika berminat menggunakan teknologi biogas. Dalam kajian ini juga dilakukan observasi dan mencatat nilai karbon efisiensi yang ditimbulkan.
 


Pendahuluan
Telah dibangun 2 buah digester biogas di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah. Satu buah digester ukuran 4 m3 terletak di Kampung Konservasi Yayorin Pangkalan Bun, dan satu buah lagi terletak di Kebun Petani Sengon desa Pasir Panjang Pangkalan Bun. Kedua digester tersebut menghasilkan gas yang digunakan untuk memasak. Oleh karena kapasitas gas yang dihasilkan dari digester di Kebun Petani Sengon masih cukup berlebih jika hanya digunakan untuk memasak, maka digester biogas di Kebun Petani Sengon juga digunakan untuk menghidupkan genset listrik agar bisa digunakan menghidupkan mesin pompa air untuk keperluan kandang sapi.
Digester yang telah dibangun di lokasi Demonstration Site digunakan sebagai lokasi percontohan jika masyarakat memerlukan informasi tentang teknologi biogas dan energy alternative lainnya. Demonstration Plot yang terletak di Kampung Konservasi Yayorin terus dikunjungi tamu, terutama dari masyarakat, murid sekolah, dan petugas pemerintah daerah. Pengunjung yang datang tidak hanya dari sekitar Pangkalan Bun, tetapi dari desa-desa lainnya, bahkan dari luar kabupaten Kotawaringin Barat, seperti Sukamara, Lamandau, Sampit, dan bahkan dari Palangka Raya, Pulang Pisau, dan daerah lain di Kalimantan Tengah.
Pesan utama yang ingin disampakan dari demplot biogas di Yayorin Pangkalan Bun adalah menyampaikan manfaat ekonomi yang akan menjadi acuan untuk menyampaikan pesan positif dan keuntungan dalam mengembangkan penggunaan biogas sebagai energy alternative terbarukan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Pesan positif yang dikembangkan akan berkaitan dengan keuntungan secara ekonomi yang akan menjadi insentif untuk masyarakat jika berminat menggunakan teknologi biogas. Dalam kajian ini juga dilakukan observasi dan mencatat nilai karbon efisiensi yang ditimbulkan.
Metode Pengamatan
Data yang diambil dalam pengamatan ini meliputi penggunaan jenis bahan bakar yang biasa dipakai di rumah tangga, jumlah penggunaan setiap hari/ bulan, dan alternative bahan bakar yang digunakan jika bahan bakar yang biasa digunakan tidak tersedia.
Dalam pengamatan ini pengumpulan data dilakukan langsung di lapangan. Data diambil dari tiga sampel, yaitu dari komplek perumahan, pedesaan, dan dari Kampung Konservasi Yayorin tempat demonstrasi site.
Data yang diperoleh kemudian dihitung, ditabulasi, dan dianalisis kecenderungannya menggunakan perhitungan sederhana dan mudah dipahami secara umum.
Penggunaan Energi Rumah Tangga di Pangkalan Bun dan Sekitarnya.
Dari pengumpulan data selama 3 bulan di demonstration site, dapat disimpulkan bahwa penggunaan bio gas untuk memasak di lokasi demplot YAYORIN dapat menggantikan gas LPG sebanyak 0,5 tabung 12 kg per bulan.
Di desa Pasirpanjang, Pangkalan Bun dan Kotawaringin Barat secara keseluruhan belum termasuk sebagai cakupan kawasan dalam program konversi energy (minyak tanah ke gas) nasional. Penggunaan gas LPG di perkampungan sekitar Pangkalan Bun relative masih jarang. Dari 3 sampel rumah tangga yang terletak di perumahan Bumi Asih dan Pinang Merah Pangkalan Bun, dengan anggota keluarga minimal 3 orang dan maksimal 7 orang yang dicatat dalam pengamatan ini, biasa menggunakan gas LPG dengan jumlah jam masak antara 1 – 2 jam per hari, rata-rata menghabiskan 1 tabung gas ukuran 12 kg untuk selama penggunaan 3 bulan. Data selengkapnya dapat dilihat dalam table:

Table penggunaan LPG 12 kg per bulan
(data observasi Juni – Agustus 2013)
No
Jml orang
Lokasi
Jam Masak
Rata2 Per Bulan
CO2 (kg/bulan)
KK1
7
Pinang Indah
2
0,5

KK2
4
Bumi Asih
1
0,3

KK3
3
Bumi Asih
1
0,25

Rata2 kk/ bln1,05 tabung LPG 12 kg atau 12,6 kg
Rata2 org/ bln0,23 tabung LPG 12 kg atau 2,76 kg

Masyarakat Pangkalan Bun pada umumnya masih menggunakan minyak tanah. Harga minyak tanah di Pangkalan Bun masih sepenuhnya mendapat subsidi dari pemerintah dengan pembagian jatah untuk kawasan pedesaan sebanyak 2 kali 10 liter per bulan dan untuk kawasan perkotaan sebanyak 2 kali 5 liter. Pada umumnya masyarakat membeli minyak tanah subsidi dari agen dengan harga Rp. 3.500,-per liter. Jumlah jatah minyak tanah subsidi bagi beberapa keluarga terutama di pedesaan masih sangat kurang oleh karena jaringan listrik PLN belum lagi masuk ke beberapa desa. Oleh karena itu dari jumlah jatah subsidi, banyak keluarga di pedesaan masih harus menambah antara 5 sampai 10 liter per bulan untuk keperluan penerangan. Volume minyak tanah yang digunakan oleh masyarakat setiap bulan di beberapa desa contoh dapat dilihat pada table:

Tabel Jumlah konsumsi minyak tanah
di beberapa desa contoh Kecamatan Arut Selatan
Rumah Tangga
Desa
Jumlah orang
Jam Masak
PerBulan (liter rata2)
RT1
Karanganyar
7
2
26,5
RT2
Pasir Panjang
3
1
10
RT3
Karanganyar
8
2
25
RT4
Karanganyar
3
1
5
RT5
Pasir Panjang
8
2
30
Rata2/ bln/ kk 20 litre minyak tanah
Rata2/ bln/ org 3,36 litre minyak tanah

Di sekitar Pangkalan Bun, penggunaan kayu bakar sudah banyak ditinggalkan orang. Pada rumah tangga yang sudah terhubung dengan jaringan listrik PLN, pada umumnya memasak nasi sudah menggunakan rice cooker. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa penggunaan gas LPG oleh masyarakat masih sangat jarang. Hal itu juga dikarenakan distribusi gas LPG di warung-warung memang masih sangat langka.
Nilai Substitusi Ekonomi Biogas terhadap penggunaan Bahan Bakar Rumah Tangga di Pangkalan Bun
Mengutip DEFRA 2007, setiap 1 m3 biogas equivalent dengan LPG 0,46 kg, 0,62 litre minyak tanah, 0,52 litre minyak diesel, dan kayu bakar sebanyak 3,50 kg. Dari pengamatan di lapangan, dengan digester 4 m3, produksi biogas adalah sekitar 3,02 m3 per hari. Penggunaan rata-rata LPG adalah 0,42 kg per hari, minyak tanah 0,66 liter per hari, sedangkan kayu bakar mencapai 5,29 kg per hari. Jika 1 digester biogas 4 m3 bisa yang menghasilkan 3,02 m3 gas bisa melayani 2 rumah tangga setiap hari, maka bahan bakar yang bisa dilakukan substitusi atau bahan bakar rumah tangga yang bisa diganti adalah LPG sebesar 0,84 kg atau minyak tanah 1,33 liter atau kayubakar 21,14 kg.

Jenis Energy
Satuan
Harga (Rp) */
Konsumsi/ hari
Harga (Rp)
Nilai subtitusi (2 KK)**/
LPG
Kg
11.667,-
0,42
4.900
9.800,-
Minyak Tanah
Liter
8.000,-
0,66
5.200
10.400,-
Kayu Bakar
Kg
1.700,-
5,29
8.993
17.969,-
Biogas
M3
817



*/ harga di pasar Pangkalan Bun, bukan harga subsidi.
**/ nilai substitusi biogas 4 m3 yang digunakan 2 rumah tangga untuk harga penggunaan setiap hari.

Dari hasil diskusi bersama masyarakat di Kampung Konservasi Yayorin untuk menghitung biaya pembangunan digester biogas sesuai dengan kebutuhan material dan tenaga kerja yang diperlukan, masyarakat dapat mengetahui biaya yang diperlukan untuk membangun digester biogas dengan menggunakan material bangunan yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.
Hingga saat ini masyarakat belum memiliki pilihan penggunaan energy untuk keperluan sehari-hari yang tepat. Meskipun banyak masyarakat yang tertarik dan berharap bisa membangun digester biogas dengan kalkulasi biaya yang mereka buat sendiri sesuai dengan harga bahan di tingkat local, tetapi biaya pembangunan itu masih dirasakan relative tinggi untuk rumah tangga kecil. Masyarakat belum mengetahui untuk mendapatkan kemungkinan pembiayaan melalui lembaga keuangan dan mencari solusi yang berkaitan dengan pembiayaan pembangunan digester biogas sekala rumah tangga.
Jika diasumsikan biaya pembuatan dan aplikasi digester adalah Rp. 9.000.000,- (harga dihitung dari hasil diskusi kelompok dengan masyarakat saat membangun digester 4 m3 secara gotong royong di Pangkalan Bun tanggal 20 April 2013) dan usia pakai digester adalah 10 tahun, maka nilai biaya harian digester biogas adalah Rp. 2.467,-. Dengan produksi biogas 3.02 m3 maka harga biogas per hari adalah Rp. 817,-. Jika di Pangkalan Bun harga LPG adalah Rp. 11.667,- per kg, harga minyak tanah Rp. 8.000,- per liter (non subsidi) serta harga kayu bakar Rp. 1.700,- per kg, maka besar nilai substitusi atau nilai pengganti pengeluaran adalah Rp. 9.800,- jika rumah tangga biasa menggunakan LPG, Rp. 10.666,- jika rumah tangga biasa menggunakan minyak tanah, dan Rp.5.950,- jika rumah tangga biasa menggunakan kayu bakar.
Dari hasil pengamatan dan perhitungan, untuk menggunakan jenis bahan bakar tertentu, masyarakat memerlukan biaya seperti pada table berikut:

Jenis Bahan Bakar
satuan
Kebutuhan/ tahun
Harga/ satuan 1/
Harga/ tahun
Kebutuhan alat 2/
TOTAL
Gas LPG
kg
144
11.667
1.680.048
750.000
2.430.048
Minyak Tanah
liter
240
8.000
1.920.000
150.000
2.070.000
Kayu Bakar
kg
108
5.000
540.000
50.000
590.000
Biogas 4m3 3/
unit
1
9.000.000
9.000.000
Keterangan:
1/ Harga diperoleh dari masyarakat. Harga minyak tanah adalah harga non subsidi, mencapai Rp 7.000,- hingga Rp 8.000,-. Harga LPG 12 kg di Pangkalan Bun dan pedalaman lainnya relative masih mahal termasuk harga tabungnya.
2/ Harga alat dimaksud sebagai harga untuk membeli peralatan. Untuk gas LPG penggunaannya memerlukan tabung, selang, serta kompor. Minyak tanah memerlukan kompor. Kayu bakar memerlukan tungku.
3/ Harga untuk Biogas dihitung dari model digester 4 m3 yang didapat dari perhitungan masyarakat sesuai dengan harga material di tingkat local, termasuk biaya tukang, pemipaan, kompor, dan peralatan lainnya. Harga itu belum termasuk harga 2 ekor sapi yang kotorannya diperlukan untuk mengisi digester. Biogas juga menghasilkan bio slurry  yang bisa digunakan sebagai pupuk yang sangat bagus.

Dari table di atas menunjukkan bahwa harga untuk memilih menggunakan biogas, terlihat relative masih jauh lebih tinggi dibanding dengan jika memilih menggunakan gas LPG, sebagai pilihan yang lebih mahal, dibanding dengan menggunakan minyak tanah dan kayu bakar. Akan tetapi pilihan untuk biogas hanya membutuhkan sekali investasi karena untuk selanjutnya tidak perlu lagi membeli perlatanan lainnya. Pilihan untuk biogas menjadi semakin lebih mahal jika harus juga diperhitungkan dengan harga dua ekor sapi jika input biogas hanya tergantung dari kotoran sapi.
Kesulitan yang dihadapi masyarakat untuk mencari alternative pendanaan dalam membangun digester biogas ini seharusnya bisa diatasi melalui alternative pendanaan dari lembaga keuangan dalam bentuk kredit atau pinjaman lunak. Masyarakat biasanya menunggu dan mencari bantuan dari pemerintah termasuk bantuan untuk pengadaan sapi yang dikaitkan dengan program pengembangan ternak pedesaan.
Menurunkan emisi GRK (Gas Rumah Kaca)
Nilai lebih dari penggunaan biogas adalah masyarakat diajak untuk ikut peduli terhadap isu perubahan iklim yang semakin memprihatinkan. Pilihan menggunakan biogas akan mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) yang selain dengan cara membakar gas methan yang terbentuk dalam digester biogas juga menghentikan kemungkinan gas methan itu bisa lepas langsung dari kotoran ternak yang dibiarkan terbuka. Penggunaan biogas juga menghilangkan potensi emisi CO2 yang dihasilkan dari pembakaran minyak tanah, kayu bakar, maupun gas LPG. Nilai lebih yang cukup penting dalam pemanfaatan digester biogas terutama bisa lebih besar manfaatnya oleh para petani, karena slurry yang dihasilkan dari kotoran ternak yang telah hilang gas methannya adalah pupuk organic yang berkualitas tinggi. Petani selain mendapatkan energy bahan bakar juga tidak perlu membeli pupuk untuk keperluan tanaman pertanian.
Dapat disimpulkan bahwa penggunaan minyak tanah di Pangkalan Bun memang masih tinggi. Dari data yang didapat tercatat bahwa penggunaan minyak tanah rata-rata adalah 20 liter per keluarga per bulan dan sekitar 3,36 liter per orang per bulan. Pada saat ini menurut data dari BPS Kotawaringin Barat 2013, jumlah rumah tangga pertanian di Kotawaringin Barat adalah 23.524 keluarga (KK).
Table jumlah Rumah Tangga Pertanian (2012)
di kabupaten Kotawaringin Barat (BPS KOBAR 2013):
Kecamatan
Jumlah KK
Arut Selatan
5.704
Kotawaringin Lama
2.619
Kumai
4.514
Pangkalan Banteng
4.278
Pangkalan Lada
5.095
Arut Utara
1.314
Total Keluarga Tani
23.524
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotawaringin Barat,
Angka Sementara Hasil Sensus Pertanian 2013. Katalog BPS 5106002.6201
Dari perhitungan jumlah keluarga pertanian di Kotawaringin Barat tersebut menggambarkan bahwa sekitar 470.480 liter per bulan dibakar untuk keperluan memasak dan penerangan lampu oleh keluarga pertanian di Kotawatingin Barat.
Potensi GRK (Gas Rumah Kaca) dari Kotoran Ternak di Kotawarining Barat.
Di Kotawaringin Barat saat ini terdapat 8.155 ekor sapi dan kerbau yang dipelihara oleh rumah tangga petani (data 2012), meskipun jumlah itu menurun jika dibandingkan dengan data tahun 2011 yaitu sekitar 8.559 ekor (BPS KOBAR 2013). Setiap ekor sapi diperkirakan menghasilkan kotoran setara dengan sekitar 25 kg kotoran segar, maka 8.155 ekor sapi berpotensi menghasilkan 203.875 kg kotoran/ hari. Dari 8.115 ekor sapi tersebut, jika diasumsikan setiap ekor sapi menghasilkan 40 liter gas methan (Harahap, 1987), di Kotawaringin Barat akan memiliki potensi gas methan sebanyak 324.600 liter yang bermanfaat jika dikelola dan sangat berbahaya jika dibiarkan terlepas ke udara. Jika kotoran sapi tersebut berpotensi menghasilkan limbah gas methan yang terlepas ke udara maka potensi itu juga dapat digunakan untuk membangun digester biogas sekitar 4.000 unit lebih untuk memanfaatkan dan menampung gas methan yang bisa digunakan untuk keperluan rumah tangga petani dan mengurangi emisi dari penggunaan minyak tanah yang lebih banyak dipakai oleh rumah tangga petani di Kotawaringin Barat selama ini.
Methane, adalah unsur utama yang secara nyata memberikan kontribusi terhadap emisi Gas Rumah Kaca (GRK) atau Green House Gass (GHG) yaitu sebanyak 1kg gas methane akan menimbulkan efek kehancuran sebesar 21 kali lipat dibandingkan dengan kehancuran yang diakibatkan oleh CO2. Dengan demikian pengurangan emisi gas methane akan berperan besar untuk mengurangi dengan cepat dari dampak perubahan iklim.
Pembakaran minyak tanah diperkirakan akan melepas atom karbon sekitar 85%. Setiap satu liter minyak tanah memiliki massa jenis 0,82, sehingga satu liter minyak tanah sama dengan 0,82 kg. Dengan estimasi atom karbon sekitar 85% maka jumlah atom C equivalent (Ceq) pada minyak tanah setiap liter adalah 85% x 0,82 = 0,69 Ceq (BAPEDALDAS, 2008 dalam Gratimah, 2009). Dari berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak tanah menghasilkan emisi C yang besar (Supendi, 2005).
Di Pangkalan Bun dari hasil pengamatan diperoleh data penggunaan minyak tanah rata-rata per KK per bulan adalah 20 liter, atau 0,67 liter per hari. Konsumsi penggunaan minyak tanah berpotensi setara dengan 0,67 x 0,69 Ceq, yaitu 0,46 Ceq. Per hari per KK.
jika dibandingkan dengan tahun 2000, jumlah penduduk kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) pada 2010 mengalami peningkatan sebanyak 3,29%. Berdasarkan hasil sensus penduduk (SP) Badan Pusat Statistik (BPS) Kobar Mei 2010, jumlah penduduk Kobar mencapai 235.274 jiwa atau meningkat sebanyak 65.971 bila dibandingkan dengan hasil sensus penduduk pada 2000 yang hanya sebanyak 169.303 jiwa.
Dalam rentang waktu 10 tahun jumlah penduduk di Kobar secara otomatis mengalami peningkatan 3,29 % per tahun. Meningkatnya jumlah penduduk disebabkan adanya program perkebunan kelapa sawit. Laju pertumbuhan tertinggi ada di Kecamatan Arut Utara (Aruta), yang mencapai 10,58%, sedangkan yang terendah ada di Kecamatan Kotawaringin Lama (Kolam) dengan hanya 1,91%. Sedangkan untuk Kecamatan Arut Selatan (Arsel), mencapai 2,78%. Jumlah penduduk di Kobar pada tahun 2010berdasarkan kawasan meliputi, Kecamatan Arsel 97.757 jiwa, Kumai 46.533 jiwa, Pangkalan Banteng 30.713 jiwa, dan Arut Utara 13.424 jiwa. Dari data di atas dapat digambarkan bahwa potensi pertumbuhan penduduk di Kotawaringin Barat bisa mencapai sekitar 4%.
Apabila di Kotawaringin Barat saat ini terdapat 23.524 KK Pertanian (BPS KOBAR 2013), dan sudah dipastikan mereka semua menggunakan minyak tanah. Maka sudah pasti setiap hari terlepas dari pembakaran minyak tanah sebesar 10.821 Ceq. terlepas ke udara menjadi emisi CO2. yang sangat besar Dengan pertumbuhan populasi penduduk sekitar 4%, maka prediksi dari tahun ke tahun jumlah itu akan terus meningkat. Jumlah emisi CO2 sebagai gas rumah kaca (GRK) itu hanya diperkirakan secara on site yang dilepas dari sector rumah tangga pertanian di Pangkalan Bun, belum termasuk dari sector lain seperti industry pedesaan, kendaraan bermotor dan genset, atau kotoran ternak yang terbuang dan menghasilkan gas methan yang terlepas ke udara.
Perkiraan pengurang emisi GRK yang akan dihasilkan akan sangat besar jika potensi kotoran ternak dari 8.155 ekor sapi dapat diolah menjadi biogas. Biogas tidak hanya mengurangi potensi emisi tetapi juga mencegah pelepasan emisi terutama CH4 atau gas methan langsung terpapar ke udara.
Penutup
Meskipun pembangunan digester biogas membutuhkan investasi yang cukup besar bagi masyarakat, tetapi manfaat ekonomi yang diperoleh untuk masyarakat dalam pengamatan ini cukup significant.
Dengan tersedianya biogas rumah tangga, masyarakat tidak lagi tergantung dengan minyak tanah dan bahkan satu digester biogas 4 m3, berpotensi untuk mengurang penggunaan minyak tanah sekitar 2,01 liter per hari untuk kebutuhan 3 KK per hari, karena bisa digunakan oleh 3 KK atau minimum untuk 2 KK.
Dalam berbagai hal, penggunaan biogas akan memberi manfaat yang banyak. Pembangunan digester biogas rumah tangga terutama di pedesaan akan sangat membantu pengurangan emisi GRK, baik dari pembakaran minyak tanah maupun dari potensi gas methan yang dilepaskan dari kotoran ternak.
Sebagai salah satu sumber alternate energy terbarukan dengan teknologi yang sederhana, aman, dan mudah diterapkan, maka pengembangan biogas untuk rumah tangga pedesaan sangat perlu mendapat support yang besar dari pemerintah. Masyarakat pedesaan tidak hanya memperoleh energy, tetapi juga memperoleh pupuk, dan menjaga sanitasi lingkungan.
Untuk itu maka perlu dikembangkan mekanisme pembiayaan yang baik, sederhana, dan murah termasuk pendampingan teknis dan keterkaitannya dengan sector peternakan dan pertanian, agar pembangunan digester biogas di masyarakat pedesaan dapat berkembang dengan pesat dan mensejahterakan.
Referensi:
Blue Print of National Energy Application 2007-2025, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Jakarta, 2006
Borneo News (Kamis 26 Agustus 2010): Jumlah Penduduk Kobar Meningkat 3,29% http://borneonews.co.id/news/kobar/
DEFRA: Anaerobic digestion in agriculture: Policies and markets for growth, Workshop report, May 2007.
Gratimah, RD, G. 2009. Analisis Kebutuhan Hutan Kota Sebagai Penyerap Gas CO2 Anthropogenik di Pusat Kota Medan (tesis). Medan: Universitas Sumatera Utara.
Guidelines to Defra/ DECC’s GHG Conversion Factors for Company Reporting: Methodology Paper for Emission Factors www.defra.gov.uk July 2012.
INDONESIA 2005 - 2025, BUKU PUTIH Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Energi Baru dan Terbarukan untuk Mendukung Keamanan Ketersediaan Energi Tahun 2005 - 2025 (Jakarta, 2006)
Kadarwati, Sri: Petunjuk Praktikum, Kursus Teknologi dan Permasalahan Gas Bio. Proyek Laboratorium PST PPTMGB LEMIGAS (Cepu, 1981).
Lalenoh, N. L.,: Emisi Gas Karbon Dioksida (CO2) Antropogenik di Kabupaten Manokwari, Skripsi Fak. Kehutanan Universitas Neger Papua Manokwari, 2013.
Sensus Pertaian Kabupaten Kotawaringin Barat (BPS KOBAR, 2013)
Suhedi, F: Emisi CO2 dari Konsumsi Energi Domestik., Pusat Litbang Permukiman., Dep. Pekerjaan Umum Bandung, 2005
YAPEKA: Menghitung Karbon Dalam PNPM LMP: Biogas dan Penanaman., Bogor 2011

≋≋≋≋≋