Bambang Ryadi Soetrisno, Edy
Hendras Wahyono */, Eddy Santoso, Iman Sapari, dan Ahmad Fauzi **/
*/
YAPEKA (Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Konservasi Alam), Bogor Jawa
Barat Indonesia
**/YAYORIN (Yayasan Orangutan Indonesia), Pangkalan Bun Kalimantan Tengah
Indonesia
Ringkasan:
Biogas
dengan ukuran 4 m3 terletak di Kampung Konservasi Yayorin Pangkalan Bun, dan ukuran
8 m3 terletak di Kebun Petani Sengon desa Pasir Panjang Pangkalan Bun telah dibangun
sebagai Demonstration Plot percontohan jika masyarakat memerlukan informasi
tentang teknologi biogas dan energy alternative lainnya.
Pesan
utama yang ingin disampakan dari demplot biogas di Yayorin Pangkalan Bun adalah
menyampaikan manfaat ekonomi yang akan menjadi acuan untuk menyampaikan pesan
positif dan keuntungan dalam mengembangkan penggunaan biogas sebagai energy
alternative terbarukan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Pesan positif
yang dikembangkan akan berkaitan dengan keuntungan secara ekonomi yang akan
menjadi insentif untuk masyarakat jika berminat menggunakan teknologi biogas.
Dalam kajian ini juga dilakukan observasi dan mencatat nilai karbon efisiensi
yang ditimbulkan.
Pendahuluan
Telah dibangun 2 buah digester biogas
di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah. Satu buah digester
ukuran 4 m3 terletak di Kampung Konservasi Yayorin Pangkalan Bun, dan satu buah
lagi terletak di Kebun Petani Sengon desa Pasir Panjang Pangkalan Bun. Kedua
digester tersebut menghasilkan gas yang digunakan untuk memasak. Oleh karena
kapasitas gas yang dihasilkan dari digester di Kebun Petani Sengon masih cukup
berlebih jika hanya digunakan untuk memasak, maka digester biogas di Kebun
Petani Sengon juga digunakan untuk menghidupkan genset listrik agar bisa
digunakan menghidupkan mesin pompa air untuk keperluan kandang sapi.
Digester yang telah dibangun di lokasi
Demonstration Site digunakan sebagai lokasi percontohan jika masyarakat
memerlukan informasi tentang teknologi biogas dan energy alternative lainnya.
Demonstration Plot yang terletak di Kampung Konservasi Yayorin terus dikunjungi
tamu, terutama dari masyarakat, murid sekolah, dan petugas pemerintah daerah.
Pengunjung yang datang tidak hanya dari sekitar Pangkalan Bun, tetapi dari
desa-desa lainnya, bahkan dari luar kabupaten Kotawaringin Barat, seperti
Sukamara, Lamandau, Sampit, dan bahkan dari Palangka Raya, Pulang Pisau, dan
daerah lain di Kalimantan Tengah.
Pesan utama yang ingin disampakan dari
demplot biogas di Yayorin Pangkalan Bun adalah menyampaikan manfaat ekonomi
yang akan menjadi acuan untuk menyampaikan pesan positif dan keuntungan dalam
mengembangkan penggunaan biogas sebagai energy alternative terbarukan yang bisa
dimanfaatkan oleh masyarakat. Pesan positif yang dikembangkan akan berkaitan
dengan keuntungan secara ekonomi yang akan menjadi insentif untuk masyarakat
jika berminat menggunakan teknologi biogas. Dalam kajian ini juga dilakukan
observasi dan mencatat nilai karbon efisiensi yang ditimbulkan.
Metode
Pengamatan
Data yang diambil dalam pengamatan ini
meliputi penggunaan jenis bahan bakar yang biasa dipakai di rumah tangga,
jumlah penggunaan setiap hari/ bulan, dan alternative bahan bakar yang
digunakan jika bahan bakar yang biasa digunakan tidak tersedia.
Dalam pengamatan ini pengumpulan data
dilakukan langsung di lapangan. Data diambil dari tiga sampel, yaitu dari
komplek perumahan, pedesaan, dan dari Kampung Konservasi Yayorin tempat
demonstrasi site.
Data yang diperoleh kemudian dihitung, ditabulasi,
dan dianalisis kecenderungannya menggunakan perhitungan sederhana dan mudah dipahami
secara umum.
Penggunaan Energi Rumah Tangga di Pangkalan Bun dan Sekitarnya.
Dari pengumpulan data selama 3 bulan di
demonstration site, dapat disimpulkan bahwa penggunaan bio gas untuk memasak di
lokasi demplot YAYORIN dapat menggantikan gas LPG sebanyak 0,5 tabung 12 kg per
bulan.
Di desa Pasirpanjang, Pangkalan Bun dan
Kotawaringin Barat secara keseluruhan belum termasuk sebagai cakupan kawasan dalam
program konversi energy (minyak tanah ke gas) nasional. Penggunaan gas LPG di
perkampungan sekitar Pangkalan Bun relative masih jarang. Dari 3 sampel rumah
tangga yang terletak di perumahan Bumi Asih dan Pinang Merah Pangkalan Bun,
dengan anggota keluarga minimal 3 orang dan maksimal 7 orang yang dicatat dalam
pengamatan ini, biasa menggunakan gas LPG dengan jumlah jam masak antara 1 – 2
jam per hari, rata-rata menghabiskan 1 tabung gas ukuran 12 kg untuk selama
penggunaan 3 bulan. Data selengkapnya dapat dilihat dalam table:
Table
penggunaan LPG 12 kg per bulan
(data observasi Juni – Agustus 2013)
(data observasi Juni – Agustus 2013)
No
|
Jml orang
|
Lokasi
|
Jam Masak
|
Rata2 Per Bulan
|
CO2 (kg/bulan)
|
|
KK1
|
7
|
Pinang Indah
|
2
|
0,5
|
||
KK2
|
4
|
Bumi Asih
|
1
|
0,3
|
||
KK3
|
3
|
Bumi Asih
|
1
|
0,25
|
||
Rata2 kk/ bln1,05 tabung LPG 12 kg atau 12,6 kg
|
||||||
Rata2 org/ bln0,23 tabung LPG 12 kg atau 2,76 kg
|
||||||
Masyarakat Pangkalan Bun pada umumnya
masih menggunakan minyak tanah. Harga minyak tanah di Pangkalan Bun masih
sepenuhnya mendapat subsidi dari pemerintah dengan pembagian jatah untuk
kawasan pedesaan sebanyak 2 kali 10 liter per bulan dan untuk kawasan perkotaan
sebanyak 2 kali 5 liter. Pada umumnya masyarakat membeli minyak tanah subsidi
dari agen dengan harga Rp. 3.500,-per liter. Jumlah jatah minyak tanah subsidi
bagi beberapa keluarga terutama di pedesaan masih sangat kurang oleh karena
jaringan listrik PLN belum lagi masuk ke beberapa desa. Oleh karena itu dari
jumlah jatah subsidi, banyak keluarga di pedesaan masih harus menambah antara 5
sampai 10 liter per bulan untuk keperluan penerangan. Volume minyak tanah yang
digunakan oleh masyarakat setiap bulan di beberapa desa contoh dapat dilihat
pada table:
Tabel Jumlah
konsumsi minyak tanah
di beberapa desa contoh Kecamatan Arut Selatan
di beberapa desa contoh Kecamatan Arut Selatan
Rumah Tangga
|
Desa
|
Jumlah orang
|
Jam Masak
|
PerBulan (liter rata2)
|
RT1
|
Karanganyar
|
7
|
2
|
26,5
|
RT2
|
Pasir Panjang
|
3
|
1
|
10
|
RT3
|
Karanganyar
|
8
|
2
|
25
|
RT4
|
Karanganyar
|
3
|
1
|
5
|
RT5
|
Pasir Panjang
|
8
|
2
|
30
|
Rata2/ bln/ kk 20 litre minyak tanah
|
||||
Rata2/ bln/ org 3,36 litre minyak tanah
|
||||
Di sekitar Pangkalan Bun, penggunaan
kayu bakar sudah banyak ditinggalkan orang. Pada rumah tangga yang sudah
terhubung dengan jaringan listrik PLN, pada umumnya memasak nasi sudah
menggunakan rice cooker. Dari data
yang diperoleh menunjukkan bahwa penggunaan gas LPG oleh masyarakat masih
sangat jarang. Hal itu juga dikarenakan distribusi gas LPG di warung-warung
memang masih sangat langka.
Nilai Substitusi Ekonomi Biogas terhadap penggunaan Bahan
Bakar Rumah Tangga di Pangkalan Bun
Mengutip DEFRA 2007, setiap 1 m3 biogas
equivalent dengan LPG 0,46 kg, 0,62 litre minyak tanah, 0,52 litre minyak diesel,
dan kayu bakar sebanyak 3,50 kg. Dari pengamatan di lapangan, dengan digester 4 m3, produksi biogas adalah
sekitar 3,02 m3 per hari. Penggunaan rata-rata LPG adalah 0,42 kg per hari,
minyak tanah 0,66 liter per hari, sedangkan kayu bakar mencapai 5,29 kg per
hari. Jika 1 digester biogas 4 m3
bisa yang menghasilkan 3,02 m3 gas bisa melayani 2 rumah tangga setiap hari,
maka bahan bakar yang bisa dilakukan substitusi atau bahan bakar rumah tangga
yang bisa diganti adalah LPG sebesar 0,84 kg atau minyak tanah 1,33 liter atau
kayubakar 21,14 kg.
Jenis Energy
|
Satuan
|
Harga (Rp) */
|
Konsumsi/ hari
|
Harga (Rp)
|
Nilai subtitusi (2 KK)**/
|
LPG
|
Kg
|
11.667,-
|
0,42
|
4.900
|
9.800,-
|
Minyak Tanah
|
Liter
|
8.000,-
|
0,66
|
5.200
|
10.400,-
|
Kayu Bakar
|
Kg
|
1.700,-
|
5,29
|
8.993
|
17.969,-
|
Biogas
|
M3
|
817
|
*/ harga di pasar Pangkalan Bun, bukan harga
subsidi.
**/ nilai substitusi biogas 4 m3 yang digunakan 2 rumah tangga untuk harga penggunaan setiap hari.
**/ nilai substitusi biogas 4 m3 yang digunakan 2 rumah tangga untuk harga penggunaan setiap hari.
Dari hasil diskusi bersama masyarakat
di Kampung Konservasi Yayorin untuk menghitung biaya pembangunan digester
biogas sesuai dengan kebutuhan material dan tenaga kerja yang diperlukan,
masyarakat dapat mengetahui biaya yang diperlukan untuk membangun digester
biogas dengan menggunakan material bangunan yang ada di sekitar tempat tinggal
mereka.
Hingga saat ini masyarakat belum
memiliki pilihan penggunaan energy untuk keperluan sehari-hari yang tepat.
Meskipun banyak masyarakat yang tertarik dan berharap bisa membangun digester biogas dengan kalkulasi biaya
yang mereka buat sendiri sesuai dengan harga bahan di tingkat local, tetapi
biaya pembangunan itu masih dirasakan relative tinggi untuk rumah tangga kecil.
Masyarakat belum mengetahui untuk mendapatkan kemungkinan pembiayaan melalui
lembaga keuangan dan mencari solusi yang berkaitan dengan pembiayaan
pembangunan digester biogas sekala
rumah tangga.
Jika diasumsikan biaya pembuatan dan
aplikasi digester adalah Rp.
9.000.000,- (harga dihitung dari hasil diskusi kelompok dengan masyarakat saat
membangun digester 4 m3 secara gotong
royong di Pangkalan Bun tanggal 20 April 2013) dan usia pakai digester adalah 10 tahun, maka nilai
biaya harian digester biogas adalah
Rp. 2.467,-.
Dengan produksi biogas 3.02 m3 maka harga biogas per
hari adalah Rp. 817,-. Jika di Pangkalan Bun harga LPG adalah Rp. 11.667,- per
kg, harga minyak tanah Rp. 8.000,- per liter (non subsidi) serta harga kayu
bakar Rp. 1.700,- per kg, maka besar nilai substitusi atau nilai pengganti
pengeluaran adalah Rp. 9.800,- jika rumah tangga biasa menggunakan LPG, Rp.
10.666,- jika rumah tangga biasa menggunakan minyak tanah, dan Rp.5.950,- jika
rumah tangga biasa menggunakan kayu bakar.
Dari hasil pengamatan dan perhitungan,
untuk menggunakan jenis bahan bakar tertentu, masyarakat memerlukan biaya
seperti pada table berikut:
Jenis Bahan Bakar
|
satuan
|
Kebutuhan/ tahun
|
Harga/ satuan 1/
|
Harga/ tahun
|
Kebutuhan alat 2/
|
TOTAL
|
Gas LPG
|
kg
|
144
|
11.667
|
1.680.048
|
750.000
|
2.430.048
|
Minyak Tanah
|
liter
|
240
|
8.000
|
1.920.000
|
150.000
|
2.070.000
|
Kayu Bakar
|
kg
|
108
|
5.000
|
540.000
|
50.000
|
590.000
|
Biogas 4m3 3/
|
unit
|
1
|
9.000.000
|
9.000.000
|
Keterangan:
1/ Harga diperoleh dari masyarakat. Harga
minyak tanah adalah harga non subsidi, mencapai Rp 7.000,- hingga Rp 8.000,-.
Harga LPG 12 kg di Pangkalan Bun dan pedalaman lainnya relative masih mahal
termasuk harga tabungnya.
2/ Harga alat dimaksud sebagai harga untuk membeli peralatan. Untuk gas LPG penggunaannya memerlukan tabung, selang, serta kompor. Minyak tanah memerlukan kompor. Kayu bakar memerlukan tungku.
3/ Harga untuk Biogas dihitung dari model digester 4 m3 yang didapat dari perhitungan masyarakat sesuai dengan harga material di tingkat local, termasuk biaya tukang, pemipaan, kompor, dan peralatan lainnya. Harga itu belum termasuk harga 2 ekor sapi yang kotorannya diperlukan untuk mengisi digester. Biogas juga menghasilkan bio slurry yang bisa digunakan sebagai pupuk yang sangat bagus.
2/ Harga alat dimaksud sebagai harga untuk membeli peralatan. Untuk gas LPG penggunaannya memerlukan tabung, selang, serta kompor. Minyak tanah memerlukan kompor. Kayu bakar memerlukan tungku.
3/ Harga untuk Biogas dihitung dari model digester 4 m3 yang didapat dari perhitungan masyarakat sesuai dengan harga material di tingkat local, termasuk biaya tukang, pemipaan, kompor, dan peralatan lainnya. Harga itu belum termasuk harga 2 ekor sapi yang kotorannya diperlukan untuk mengisi digester. Biogas juga menghasilkan bio slurry yang bisa digunakan sebagai pupuk yang sangat bagus.
Dari table di atas menunjukkan bahwa
harga untuk memilih menggunakan biogas, terlihat relative masih jauh lebih
tinggi dibanding dengan jika memilih menggunakan gas LPG, sebagai pilihan yang
lebih mahal, dibanding dengan menggunakan minyak tanah dan kayu bakar. Akan
tetapi pilihan untuk biogas hanya membutuhkan sekali investasi karena untuk
selanjutnya tidak perlu lagi membeli perlatanan lainnya. Pilihan untuk biogas
menjadi semakin lebih mahal jika harus juga diperhitungkan dengan harga dua
ekor sapi jika input biogas hanya tergantung dari kotoran sapi.
Kesulitan yang dihadapi masyarakat
untuk mencari alternative pendanaan dalam membangun digester biogas ini seharusnya bisa diatasi melalui alternative
pendanaan dari lembaga keuangan dalam bentuk kredit atau pinjaman lunak.
Masyarakat biasanya menunggu dan mencari bantuan dari pemerintah termasuk
bantuan untuk pengadaan sapi yang dikaitkan dengan program pengembangan ternak
pedesaan.
Menurunkan
emisi GRK (Gas Rumah Kaca)
Nilai lebih dari penggunaan biogas
adalah masyarakat diajak untuk ikut peduli terhadap isu perubahan iklim yang
semakin memprihatinkan. Pilihan menggunakan biogas akan mengurangi emisi gas
rumah kaca (GRK) yang selain dengan cara membakar gas methan yang terbentuk
dalam digester biogas juga
menghentikan kemungkinan gas methan itu bisa lepas langsung dari kotoran ternak
yang dibiarkan terbuka. Penggunaan biogas juga menghilangkan potensi emisi CO2
yang dihasilkan dari pembakaran minyak tanah, kayu bakar, maupun gas LPG. Nilai
lebih yang cukup penting dalam pemanfaatan digester
biogas terutama bisa lebih besar manfaatnya oleh para petani, karena slurry yang dihasilkan dari kotoran
ternak yang telah hilang gas methannya adalah pupuk organic yang berkualitas
tinggi. Petani selain mendapatkan energy bahan bakar juga tidak perlu membeli
pupuk untuk keperluan tanaman pertanian.
Dapat disimpulkan bahwa penggunaan
minyak tanah di Pangkalan Bun memang masih tinggi. Dari data yang didapat
tercatat bahwa penggunaan minyak tanah rata-rata adalah 20 liter per keluarga
per bulan dan sekitar 3,36 liter per orang per bulan. Pada saat ini menurut
data dari BPS Kotawaringin Barat 2013, jumlah rumah tangga pertanian di
Kotawaringin Barat adalah 23.524 keluarga (KK).
Table jumlah
Rumah Tangga Pertanian (2012)
di kabupaten Kotawaringin Barat (BPS KOBAR 2013):
di kabupaten Kotawaringin Barat (BPS KOBAR 2013):
Kecamatan
|
Jumlah KK
|
Arut
Selatan
|
5.704
|
Kotawaringin
Lama
|
2.619
|
Kumai
|
4.514
|
Pangkalan
Banteng
|
4.278
|
Pangkalan
Lada
|
5.095
|
Arut Utara
|
1.314
|
Total
Keluarga Tani
|
23.524
|
Sumber: Badan
Pusat Statistik Kabupaten Kotawaringin Barat,
Angka Sementara Hasil Sensus Pertanian 2013. Katalog BPS 5106002.6201
Angka Sementara Hasil Sensus Pertanian 2013. Katalog BPS 5106002.6201
Dari perhitungan jumlah keluarga
pertanian di Kotawaringin Barat tersebut menggambarkan bahwa sekitar 470.480
liter per bulan dibakar untuk keperluan memasak dan penerangan lampu oleh
keluarga pertanian di Kotawatingin Barat.
Potensi GRK (Gas Rumah Kaca) dari Kotoran Ternak di
Kotawarining Barat.
Di Kotawaringin Barat saat ini terdapat
8.155 ekor sapi dan kerbau yang dipelihara oleh rumah tangga petani (data
2012), meskipun jumlah itu menurun jika dibandingkan dengan data tahun 2011
yaitu sekitar 8.559 ekor (BPS KOBAR 2013). Setiap ekor sapi diperkirakan
menghasilkan kotoran setara dengan sekitar 25 kg kotoran segar, maka 8.155 ekor
sapi berpotensi menghasilkan 203.875 kg kotoran/ hari. Dari 8.115 ekor sapi
tersebut, jika diasumsikan setiap ekor sapi menghasilkan 40 liter gas methan
(Harahap, 1987), di Kotawaringin Barat akan memiliki potensi gas methan
sebanyak 324.600 liter yang bermanfaat jika dikelola dan sangat berbahaya jika
dibiarkan terlepas ke udara. Jika kotoran sapi tersebut berpotensi menghasilkan
limbah gas methan yang terlepas ke udara maka potensi itu juga dapat digunakan
untuk membangun digester biogas sekitar
4.000 unit lebih untuk memanfaatkan dan menampung gas methan yang bisa
digunakan untuk keperluan rumah tangga petani dan mengurangi emisi dari
penggunaan minyak tanah yang lebih banyak dipakai oleh rumah tangga petani di
Kotawaringin Barat selama ini.
Methane, adalah unsur utama yang secara
nyata memberikan kontribusi terhadap emisi Gas Rumah Kaca (GRK) atau Green House Gass (GHG) yaitu sebanyak 1kg
gas methane akan menimbulkan efek
kehancuran sebesar 21 kali lipat dibandingkan dengan kehancuran yang diakibatkan
oleh CO2. Dengan demikian pengurangan emisi gas methane
akan berperan besar untuk mengurangi dengan cepat dari dampak perubahan iklim.
Pembakaran minyak tanah diperkirakan
akan melepas atom karbon sekitar 85%. Setiap satu liter minyak tanah memiliki
massa jenis 0,82, sehingga satu liter minyak tanah sama dengan 0,82 kg. Dengan estimasi
atom karbon sekitar 85% maka jumlah atom C equivalent (Ceq) pada minyak
tanah setiap liter adalah 85% x 0,82 = 0,69 Ceq (BAPEDALDAS, 2008
dalam Gratimah, 2009). Dari berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak
tanah menghasilkan emisi C yang besar (Supendi, 2005).
Di Pangkalan Bun dari hasil pengamatan
diperoleh data penggunaan minyak tanah rata-rata per KK per bulan adalah 20
liter, atau 0,67 liter per hari. Konsumsi penggunaan minyak tanah berpotensi
setara dengan 0,67 x 0,69 Ceq, yaitu 0,46 Ceq. Per hari
per KK.
jika dibandingkan dengan tahun 2000, jumlah
penduduk kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) pada 2010 mengalami peningkatan
sebanyak 3,29%. Berdasarkan hasil sensus penduduk (SP) Badan Pusat Statistik
(BPS) Kobar Mei 2010, jumlah penduduk Kobar mencapai 235.274 jiwa atau
meningkat sebanyak 65.971 bila dibandingkan dengan hasil sensus penduduk pada
2000 yang hanya sebanyak 169.303 jiwa.
Dalam rentang waktu 10 tahun jumlah
penduduk di Kobar secara otomatis mengalami peningkatan 3,29 % per tahun. Meningkatnya
jumlah penduduk disebabkan adanya program perkebunan kelapa sawit. Laju
pertumbuhan tertinggi ada di Kecamatan Arut Utara (Aruta), yang mencapai
10,58%, sedangkan yang terendah ada di Kecamatan Kotawaringin Lama (Kolam)
dengan hanya 1,91%. Sedangkan untuk Kecamatan Arut Selatan (Arsel), mencapai
2,78%. Jumlah penduduk di Kobar pada tahun 2010berdasarkan kawasan meliputi,
Kecamatan Arsel 97.757 jiwa, Kumai 46.533 jiwa, Pangkalan Banteng 30.713 jiwa,
dan Arut Utara 13.424 jiwa. Dari data di atas dapat digambarkan bahwa potensi
pertumbuhan penduduk di Kotawaringin Barat bisa mencapai sekitar 4%.
Apabila di Kotawaringin Barat saat ini
terdapat 23.524 KK Pertanian (BPS KOBAR 2013), dan sudah dipastikan mereka
semua menggunakan minyak tanah. Maka sudah pasti setiap hari terlepas dari
pembakaran minyak tanah sebesar 10.821 Ceq. terlepas ke udara
menjadi emisi CO2. yang sangat besar Dengan pertumbuhan populasi
penduduk sekitar 4%, maka prediksi dari tahun ke tahun jumlah itu akan terus
meningkat. Jumlah emisi CO2 sebagai gas rumah kaca (GRK) itu hanya
diperkirakan secara on site yang
dilepas dari sector rumah tangga pertanian di Pangkalan Bun, belum termasuk
dari sector lain seperti industry pedesaan, kendaraan bermotor dan genset, atau
kotoran ternak yang terbuang dan menghasilkan gas methan yang terlepas ke
udara.
Perkiraan pengurang emisi GRK yang akan
dihasilkan akan sangat besar jika potensi kotoran ternak dari 8.155 ekor sapi
dapat diolah menjadi biogas. Biogas tidak hanya mengurangi potensi emisi tetapi
juga mencegah pelepasan emisi terutama CH4 atau gas methan langsung
terpapar ke udara.
Penutup
Meskipun pembangunan digester biogas
membutuhkan investasi yang cukup besar bagi masyarakat, tetapi manfaat ekonomi
yang diperoleh untuk masyarakat dalam pengamatan ini cukup significant.
Dengan tersedianya biogas rumah tangga,
masyarakat tidak lagi tergantung dengan minyak tanah dan bahkan satu digester
biogas 4 m3, berpotensi untuk mengurang penggunaan minyak tanah sekitar 2,01
liter per hari untuk kebutuhan 3 KK per hari, karena bisa digunakan oleh 3 KK
atau minimum untuk 2 KK.
Dalam berbagai hal, penggunaan biogas
akan memberi manfaat yang banyak. Pembangunan digester biogas rumah tangga
terutama di pedesaan akan sangat membantu pengurangan emisi GRK, baik dari
pembakaran minyak tanah maupun dari potensi gas methan yang dilepaskan dari
kotoran ternak.
Sebagai salah satu sumber alternate
energy terbarukan dengan teknologi yang sederhana, aman, dan mudah diterapkan,
maka pengembangan biogas untuk rumah tangga pedesaan sangat perlu mendapat
support yang besar dari pemerintah. Masyarakat pedesaan tidak hanya memperoleh
energy, tetapi juga memperoleh pupuk, dan menjaga sanitasi lingkungan.
Untuk itu maka perlu dikembangkan
mekanisme pembiayaan yang baik, sederhana, dan murah termasuk pendampingan
teknis dan keterkaitannya dengan sector peternakan dan pertanian, agar pembangunan
digester biogas di masyarakat pedesaan dapat berkembang dengan pesat dan
mensejahterakan.
Referensi:
Blue Print of National Energy Application 2007-2025, Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral. Jakarta, 2006
Borneo News (Kamis 26 Agustus 2010):
Jumlah Penduduk Kobar Meningkat 3,29% http://borneonews.co.id/news/kobar/
DEFRA: Anaerobic digestion in agriculture: Policies and markets for
growth, Workshop report, May 2007.
Gratimah, RD, G. 2009. Analisis Kebutuhan Hutan Kota Sebagai
Penyerap Gas CO2 Anthropogenik di Pusat Kota Medan (tesis). Medan:
Universitas Sumatera Utara.
Guidelines to Defra/ DECC’s GHG Conversion Factors for Company
Reporting: Methodology Paper for Emission Factors www.defra.gov.uk
July 2012.
INDONESIA 2005 - 2025, BUKU PUTIH Penelitian, Pengembangan dan
Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Energi Baru dan Terbarukan untuk
Mendukung Keamanan Ketersediaan Energi Tahun 2005 - 2025 (Jakarta, 2006)
Kadarwati, Sri: Petunjuk Praktikum, Kursus Teknologi dan
Permasalahan Gas Bio. Proyek Laboratorium PST PPTMGB LEMIGAS (Cepu, 1981).
Lalenoh, N. L.,: Emisi Gas Karbon Dioksida (CO2)
Antropogenik di Kabupaten Manokwari, Skripsi Fak. Kehutanan Universitas Neger
Papua Manokwari, 2013.
Sensus Pertaian Kabupaten Kotawaringin Barat (BPS KOBAR, 2013)
Suhedi, F: Emisi CO2 dari Konsumsi Energi Domestik.,
Pusat Litbang Permukiman., Dep. Pekerjaan Umum Bandung, 2005
YAPEKA: Menghitung Karbon Dalam PNPM LMP: Biogas dan Penanaman.,
Bogor 2011
≋≋≋≋≋
