Kamis, 18 Februari 2016


Masyarakat Desa Daerah Penyangga
Bentang Alam Taman Nasional Way Kambas
Dua tahun mendampingi kegiatan bersama masyarakat di Labuhan Ratu 9, Labuhan Ratu 7 dan Braja Yekti Lampung Timur

Bambang Ryadi Soetrisno
Bogor Juni 2015


Pengantar

Taman Nasional Way Kambas (TNWK) tercatat Kepuh memiliki luas 125.631,31 ha, terletak di bagian Tenggara Propinsi Lampung dan di bagian paling Timur berbatasan langsung dengan laut Jawa. Kawasan ini meliputi kabupaten Lampung Timur, Lampung Tengah dan Tulang Bawang. Ada 10 kecamatan dan 36 desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Way Kambas. Meskipun kepadatan penduduk tergolong masih sangat rendah atau di bawah 200 orang/ km3, namun di beberapa desa memiliki kepadatan penduduk yang sudah sangat tinggi, terutama di desa yang terletak di kecamatan Sukadana, Labuan Ratu dan Braja Selebah Lampung Timur.

Ekosistem dan kekayaan keanekaragaman hayati Taman Nasional Way Kambas tergolong penting dan mewakili ekosistem dataran rendah di bentang alam Sumatera. TNWK dilalui oleh 3 sungai yang mengalir pada dataran relative datar dengan ketinggian tidak lebih dari 50 m dpl. TNWK memiliki ekosistem hutan dataran rendah, ekosistem rawa, mangrove dan pantai. Tercatat ada sekitar 286 jenis burung termasuk burung endemic, dan dihuni oleh mamalia besar yang terkenal seperti gajah, harimau, tapir, badak dan beruang.

 
Pintu Gerbang TN Way Kambas Labuhan Ratu 9 Lampung Timur


Kepuh Sterculia foetida


Tiga desa dari 36 desa yang berbatasan langsung dengan TNWK saat itu menjadi lokasi dampingan. Desa yang menjadi lokasi dampingan itu adalah desa Labuan Ratu 7 dan Labuan Ratu 9 yang terletak di kecamatan Labuan Ratu dan desa Braja Yekti kecamatan Braja Selebah. Kawasan itu terletak di Kabupaten Lampung Timur Propinsi Lampung.

Program pendampingan yang dijalankan berkaitan dengan pengembangan ekonomi kreatif yang bisa dikembangkan oleh masyarakat desa penyangga sesuai dengan potensi lingkungan di sekitar desa penyangga. Kegiatan yang dikembangkan dalam program adalah pelatihan, demplot, budidaya dan pembentukan kelompok wisata, kerajinan, pertanian alami dan perikanan. Dalam program juga diperkenalkan penerapan teknologi tepat guna untuk pembuatan biogas, pupuk dan pestisida. Ada beberapa desa di kecamatan Labuhan Ratu dan kecamatan Braja Selebah yang penting untuk terus mendapat perhatian. Beberapa pertimbangan yang diambil untuk 3 desa ini menjadi lokasi pendampingan program antara lain adalah letak desa yang berdekatan dengan pintu gerbang TNWK dan memiliki interaksi yang kuat antara Taman Nasional dengan kegiatan masyarakat, tingkat ancaman yang ditimbulkan dari interaksi masyarakat dengan kawasan konservasi yang masih cukup tinggi.

Tiga Desa Penyangga

Desa yang menjadi lokasi pendampingan adalah Labuhan Ratu 9, Labuhan Ratu 7 dan Braja Yekti. Luas desa Labuan Ratu 7 adalah 1010 ha, dengan jumlah penduduk 4.424 jiwa (2013). Luas desa di Labuan Ratu 9 adalah 820,29 ha, dengan jumlah penduduk 1.456 jiwa (2013), dan desa Braja Yekti memiliki luas wilayah 8.633 ha dengan jumlah penduduk 3.559 jiwa (2013). Data itu adalah data resmi dari kabupaten Lampung Timur. Beberapa data dirasa kurang akurat, seperti misalnya luas kebun dan lahan lainnya. Akan tetapi data itu adalah sumber rujukan resmi. Data paling tepat adalah data yang dikumpulkan langsung dari lapangan. Saat ini sedang dikompilasi data yang diharapkan sama seperti yang ada.

Monografi Desa Labuhan Ratu 9, Labuhan Ratu 7 dan Braja Yekti 
(sumber: Braja Selebah Dalam Angka BPS Kabupaten Lampung Timur 2014 dan Labuhan Ratu Dalam Angka BPS Kabupaten Lampung Timur 2014)


Data resmi dari kabupaten lampung Timur itu sebenarnya kurang akurat. Lahan sawah di Labuhan Ratu 7 sebenarnya cukup luas dan sudah memiliki saluran irigasi teknis. Bahkan saat ini banyak lahan sawah yang terletak di rawa, sangat dekat dengan tapal batas TNWK. Lahan sawah yang terletak di dekat perbatasan itu yang sering mendapat serangan dari gajah liar dari TNWK. Pola pertanian masyarakat masih berjalan ekstensif dengan mengelola lahan cukup besar untuk menanam singkong, jagung, kebun karet dan bahkan tanaman hortikultura seperti terong, semangka, melon, timun, gambas, kacang panjang, cabe atau tomat. Pola ekstensif membutuhkan modal dan tenaga yang besar. Pola ini juga sangat rawan terhadap gangguan hama dan satwa liar.

Selain bertani masyarakat juga memelihara ternak seperti sapi, kerbau dan kambing. Ternak memiliki potensi ekonomi yang besar tetapi oleh karena letak TNWK yang sangat dekat dengan pemukiman dan lahan garapan penduduk maka interaksi satwa liar dengan hewan ternak mengakibatkan penyebaran penyakit juga sangat intensif.

Jumlah Ternak di 3 Desa Dampingan (sumber: Braja Selebah Dalam Angka BPS Kabupaten Lampung Timur 2014 dan Labuhan Ratu Dalam Angka BPS Kabupaten Lampung Timur 2014)


Kerbau masyarakat dilepas di kawasan taman nasional


Aktivitas ekonomi keseharian masyarakat di 3 desa dampingan adalah di bidang pertanian, perikanan, dan perdagangan. Hanya sebagian masyarakat yang memiliki pekerjaan sebagai karyawan atau pegawai, sebagian besar adalah petani atau buruh tani. Tiga desa dampingan berbatasan langsung dengan TNWK. Beberapa kawasan dusun memiliki batas alam yaitu sungai Way Penet. Masih banyak masyarakat yang mengandalkan sumber ekonomi dari mencari ikan di alam dengan memancing, menjala atau bahkan meracun dan menggunakan listrik. Kegiatan usaha belum banyak ditemukan di masyarakat. Beberapa usaha yang ditemukan antara lain adalah warung kebutuhan sehari-hari dan warung makan. Usaha yang berkaitan dengan pengolahan hasil pertanian dan perikanan tidak banyak ditemukan.

Kegiatan Usaha di Masyarakat Labuhan Ratu 9, Labuhan Ratu 7 dan Braja Yekti (sumber: Braja Selebah Dalam Angka BPS Kabupaten Lampung Timur 2014 dan Labuhan Ratu Dalam Angka BPS Kabupaten Lampung Timur 2014)



Sedang
Kecil
Rumah
Batu Bata
Pande
Warung
Makanan
Labuhan Ratu 9
0
0
48
13
1
49
19
Labuhan Ratu 7
0
0
232
22
0
93
17
Braja Yekti
0
1
4
2
1
31
5


Penyelamatan Bentang Alam

Dalam banyak pengertian yang umum, bentang alam diartikan sebagai hasil bentukan dari alam tanpa ada campur tangan manusia, seperti sungai, gumuk pasir, danau, bukit kapur, hutan bakau, dan lainnya. Bentang alam sering digunakan dalam menjelaskan peta geomorfologi untuk menggambarkan bagian rupa bumi dalam peta. Secara definisi, bentang alam diuraikan sebagai suatu unit geomorfologis yang dikategorikan berdasarkan karakteristik seperti elevasi, kelandaian, orientasi, stratifikasi, paparan batuan, dan jenis tanah. Jenis-jenis bentang alam antara lain adalah bukit, lembah, tanjung, sungai dan lainnya, sedangkan samudra dan benua adalah contoh jenis bentang alam tingkat tertinggi. (Wikipedia Bahasa Indonesia http://id.wikipedia.org/wiki/Bentang_alam diakses: 23/05/2015)

Dalam pengertian tentang bentang alam modern yang lebih luas, bentang alam tidak hanya dipandang sebagai hasil bentukan dari alam. Dalam Annals of the Association of American Geographers, Vol. 86, No. 4 (Dec., 1996), Kenneth R. Olwig memberikan pengertian yang lebih mendasar tentang bentang alam. Bentang alam harus dipahami sebagai konstruksi sosial. Bentang alam tidak hanya memuat estetika atau hukum alam, tetapi di dalamnya ada konstruksi sosial yang menyangkut hukum yang dibuat oleh manusia mengenai hukum kepemilikan, lahan, pertanian, tapal batas dan lainnya. Bentang alam merupakan interaksi antara aksi kepentingan manusia dan biofisik yang menyangkut kekuasaan, proses politik dan sumberdaya. Dengan kata lain bentang alam bukan hanya paparan geofisik tetapi merupakan interaksi lintas sektor.

Peter Holmgren menulis (http://blog.cifor.org/19826/bentang-alam-bagian-1-mengapa-bentang-alam-penting): Pendekatan bentang alam tidak baru bagi pembangunan, konservasi atau penelitian. Banyak, termasuk CIFOR menekankan pentingnya bekerja lintas sektor di lapangan. Apa yang baru, bagaimanapun, adalah minat tingkat tinggi dalam pendekatannya. Menjelang UNFCCC COP, kami mendengar bahwa perjanjian iklim pasca-2015 dapat menggabungkan isu pertanian dan kehutanan – titik awal bagi Forum Bentang Alam Dunia. Lebih jauh lagi, upaya lanjutan Rio+20 mengenai agenda pembangunan pasca-2015 seringkali ditekankan perlunya fokus pada solusi lintas sektor.

Pendekatan lintas sektor dan inovatif tengah dikembangkan secara luas. Peter Holmgren menyatakan bahwa jika kita membatasi bentang alam pada pertanian dan kehutanan serta orang yang terlibat dalam aktivitas ini, jelas bahwa kita tengah membicarakan mengenai bagian besar masa depan bersama. Kita bergantung pada pertanian dan kehutanan untuk: Menyediakan penghasilan dan penghidupan miliaran orang; Memproduksi makanan dan serat alam kita, juga menjaga 10 persen energi kita melalui biomassa; Menjaga jasa ekosistem penting seperti keragaman hayati, suplai air, ketahanan ekosistem dan produktivitas lahan. Pada saat yang sama, semua sektor pertanian dan kehutanan juga akan menghasilkan polusi udara, air dan rantai makanan – serta menyebabkan terbentuknya sepertiga emisi gas rumah kaca.

Pendekatan Pendampingan Masyarakat

Dalam penyelamatan bentang alam Taman Nasional, tidak bisa dipisahkan antara kepentingan sektor kehutanan dan pertanian. Peter Holmgren menyatakan, bahwa bentang alam harus dipahami bersama sebagai ‘tempat yang memiliki tata kelola’ yang inklusif. Tempat sebagai kesatuan geofisik yang meliputi sungai, rawa, hutan, lahan pertanian, iklim, dan lainnya dengan tata kelola yang simultan melibatkan kegiatan, lembaga masyarakat, pemerintahan lokal dan lembaga pemerintahan dan non pemerintah lainnya.

Dari pengalaman perjalanan pendampingan masyarakat selama 2 tahun yang telah dilakukan, pendekatan kegiatan yang diterapkan menjadi pelajaran yang berharga. Dalam konstruksi keseluruhan tidak bisa dikesampingkan kepentingan semua stake holder yang terlibat. Di luar rencana kegiatan yang sudah disusun dalam program kegiatan di desa Labuhan Ratu 9, Labuhan Ratu 7 dan Braja Yekti Lampung Timur, tahapan kegiatan sampai tahun ke 2 ini belum juga dapat menemukan kriteria dan indikator kemajuan kegiatan. Indikator kegiatan yang digunakan sesuai dengan log frame adalah terbentuknya kelompok, terbentuknya demplot dan kegiatan lainnya yang berkaitan dengan pelatihan dan pendampingan masyarakat. Sampai saat ini semua sudah dapat dicapai.

Kegiatan pendamping masyarakat ini menggunakan metode live in. Tinggal sehari-hari di 3 desa dampingan. Menempatkan 3 orang fasilitator dan 3 orang pendamping lokal. Tugas utama pendamping lokal adalah mendampingi secara langsung kelompok-kelompok yang sudah ada dan terbentuk di masyarakat. Pendamping lokal memfasilitasi pertemuan, kegiatan mingguan yang direncanakan kelompok, atau mencari solusi teknis untuk sesuatu yang solusinya tidak bisa diselesaikan di desa. Fasilitator didatangkan dari Bogor dan Bandar Lampung. Fasilitator adalah pendamping yang memiliki pengalaman bekerja di masyarakat minimal 3 tahun. Fasilitator bekerja 20 hari dalam satu bulan. Tugas fasilitator menjadi penghubung atau mediator antara kelompok dengan instansi atau lembaga lain seperti Dinas atau SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) kabupaten, Balai Taman Nasional, juga kelompok lain yang ada di luar desa. Kelompok mendapat pelatihan teknis dan manajerial beberapa kali sesuai tema atau bidang kelompok.

Kelompok yang aktif sejak awal pendampingan adalah kelompok pertanian, kelompok perikanan, kelompok kerajinan dan kelompok wisata. Semua kelompok mendapat persetujuan dan SK atau Surat keputusan desa. Bahkan seperti kelompok pertanian, perikanan dan wisata mendapat SK dari Dinas kabupaten. Pada tahun pertama kegiatan kelompok cukup padat. Kelompok banyak mendapat pelatihan teknis dan manajerial di tahun pertama. Pada tahun ke dua kelompok praktis hanya melakukan kegiatan pertemuan rutin. Tidak banyak kegiatan yang mendapat fasilitasi dari Dinas dan Balai Taman Nasional. Bahkan ada kecenderungan masing-masing Dinas dan Balai mempunyai kelompok atau orang yang secara personal diundang untuk melakukan kegiatan sendiri-sendiri.

Kelompok Wisata berkembang cukup pesat. Pada awal kegiatan, masyarakat belum mengenal homestay. Banyak tamu yang berkunjung ke TNWK mengalami kesulitan untuk mendapatkan penginapan. YAPEKA memperkenalkan konsep homestay yang bisa diterapkan di rumah penduduk. Pada awalnya usulan ini banyak mengalami kesulitan karena banyak rumah penduduk yang merasa kurang siap terutama dalam hal kebersihan kamar, sanitasi (kamar mandi dan wc), dan lingkungan rumah yang tercampur dengan kandang ternak. Namun saat ini telah berkembang baik dan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memperbaiki lingkungan rumah dan sanitasi yang berkaitan dengan kebersihan dan kesehatan.

Perkembangan dan Capaian Kelompok Wisata di Desa Labuhan Ratu 9, Labuhan Ratu 7 dan Braja Yekti


Desa
Nama Kelompok
Kegiatan
Perkembangan
Braja Yekti
Pesona Yekti, dikukuhkan melalui SK Dinas Pariwisata Lampung Timur sebagai Kelompok Sadar Wisata.
wisata desa, budaya dan alam
Anggota 15 orang. Homestay ada 10 rumah dengan 13 kamar dan 2 orang pemandu.
Labuan Ratu 9
Siwo Indah Lestari, dikukuhkan melalui SK Dinas Pariwisata Lampung Timur sebagai Kelompok Sadar Wisata.
wisata desa, budaya dan alam
Anggota 19 orang. Homestay yang tersedia 8 rumah dengan 8 kamar, dan 2 orang pemandu.
Labuan Ratu 7I
Gerbang Way Kambas, dikukuhkan melalui SK Dinas Pariwisata Lampung Timur sebagai Kelompok Sadar Wisata.
wisata desa, budaya dan alam
Anggota 12 orang. Homestay 1 rumah dengan 3 kamar, dan pemandu 1 orang.


Pada tahun ke dua pendekatan pendampingan mulai berubah. Hampir semua anggota kelompok yang pernah mengikuti pelatihan teknis seperti pembuatan digester biogas, pupuk alami, pembuatan kompos, pemijahan ikan, membuat kerajinan dan kegiatan wisata, sudah memiliki kemampuan dan praktek langsung. Dalam bidang pertanian, banyak orang percaya bahwa kompos dan pupuk alami yang sudah bisa dibuat sendiri memiliki kualitas bagus dan mampu mendorong kesuburan tanaman dengan biaya yang murah. Anggota kelompok perikanan juga mampu memijahkan ikan. Kelompok kerajinan juga memiliki ketrampilan membuat berbagai produk seperti tas, dompet, gantungan kunci, bros, bando dari berbagai bahan mulai dari bahan alami seperti gedebog pisang, lidi sampai kain perca. Namun pada umumnya mereka terlalu disibukkan dengan kegiatan harian untuk mencari nafkah keperluan sehari-hari. Semua materi keterampilan yang diberikan pada kegiatan pendampingan belum bisa menyatu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat di desa dampingan. Fasilitator dan para pendamping lokal mengalami kejenuhan. Pada tahun ke dua pertemuan kelompok sering mengalami kebuntuan, kehilangan ide, kreatifitas atau bertemu untuk sekadar mendapatkan informasi dan membicarakan situasi desa.

Perkembangan situasi kelompok tidak secara keseluruhan mengalami kekosongan kegiatan. Fasilitator dan pendamping lokal tidak bisa membiarkan situasi yang kosong itu akan terus terjadi. Salah satu faktor yang mempengaruhi situasi ini adalah rencana kerja yang sudah disusun dalam program pendampingan kurang mengantisipasi perkembangan kegiatan di lapangan. Seluruh rencana kegiatan didasarkan pada asumsi jika semua berjalan lancar. Dari mulai pembentukan kelompok secara administrasi dan legitimasi, pelatihan ketrampilan dan tata kelola, produksi, pemasaran dan pembinaan. Setelah semua materi kegiatan dan keterampilan diberikan pada kelompok saat pelatihan ternyata kelompok yang ada tidak memiliki kemampuan dan pengalaman ‘tata kelola’ kecuali kumpulan orang yang memiliki minat yang sama. Miskin pengalaman dan belum memiliki pengetahuan tentang ‘tata kelola’ menjadi kendala utama. Setelah kegiatan kelompok dan pelatihan yang padat pada tahun pertama, kegiatan pendampingan masuk dalam tema pendampingan yang disebut sebagai ‘pembinaan kelompok’.

Perkembangan dan Capaian Kelompok Pertanian
di Desa Labuhan Ratu 9, Labuhan Ratu 7 dan Braja Yekti

Desa
Nama Kelompok
Kegiatan
Fasilitas yang berkembang
Braja Yekti
Karya Mukti
Pertanian sawah, pekarangan, hortikutura dan demplot biogas.
Anggota 60 orang, membuat kompos, menanam kebun pekarangan menggunakan polibag dan memupuk sawah dan sayuran di kebun dengan menggunakan pupuk bio slurry.
Mentari
Pertanian sawah, pekarangan, dan hortikutura.
Anggota 25 orang, membuat kompos, menanam kebun pekarangan menggunakan polibag menggunakan pupuk bio slurry
Simpan pinjam
GAPOKTAN Mitra Tani II
Gabungan kelompok tani yang dibentuk melalui SK Kepala Desa.
Simpan pinjam
Labuan Ratu 9
Sidomakmur 9
Menanam pekarangan tanaman holtikultur, dan demplot biogas
Anggota 15 orang, membuat demplot sayuran dan menanam kebun pekarangan menggunakan polibag menggunakan pupuk bio slurry.
Sidomakmur 5
Menanam pekarangan tanaman holtikultur
Anggota 24 orang, membuat demplot sayuran dan menanam kebun pekarangan menggunakan polibag menggunakan pupuk bio slurry.
Sidomakmur 1
Menanam pekarangan tanaman holtikultur
Membuat demplot sayuran dan menanam kebun pekarangan menggunakan polibag menggunakan pupuk bio slurry.
KWT, (Kelompok Wanita Tani)
Menanam pekarangan tanaman holtikultur, bersama kelompok Sidomakmur 9
Demplot sayuran dan menanam kebun pekarangan menggunakan polibag menggunakan pupuk bio slurry.
Gapoktan Sido Maju
Gabungan kelompok tani yang dibentuk melalui SK Kepala Desa.
Labuan Ratu 7
Sinar Rahayu
Lahan Pekarangan tanaman holtikutura
Anggota 27 orang, membuat kompos, demplot biogas. Demplot sayuran dan menanam kebun pekarangan menggunakan polibag menggunakan pupuk bio slurry.
Plangkawati
Petani sawah dan holtikultura.
Anggota 10 orang, produksi kultur bio hayati

Kegiatan pembinaan di dalamnya adalah aplikasi hasil pelatihan. Bahkan dalam tahap ini ada beban yang sangat berat berkaitan dengan produksi, promosi dan pemasaran hasil. Pada tahap produksi sudah mengalami banyak kesulitan, dari mulai menata sumber dan kebutuhan bahan baku, jenis produksi, tenaga kerja dan sistem pengupahan, semua perlu tata kelola. Pada saat produksi belum bisa diwujudkan tidak ada barang yang bisa dipromosikan atau dipasarkan. Dalam skala program, promosi yang bisa dilakukan hanya sebatas bahwa di 3 desa lokasi pendampingan ada potensi masyarakat desa untuk pertanian alami, membangun digester biogas, pembuatan pupuk alami dan kompos, potensi perikanan, kerajinan dan wisata desa.

Aplikasi hasil pelatihan oleh fasilitator dan pendamping dipahami sebagai penerapan pengetahuan yang diperoleh untuk bisa dilakukan dalam kegiatan sehari-hari. Upaya penerapan pengetahuan yang sudah dimiliki pada kegiatan sehari-hari ternyata tidak mudah. Upaya ini memerlukan strategi perubahan, adaptasi dengan pola kegiatan masyarakat yang sudah berjalan sehari-hari, alih pengetahuan dan tata kelola. Beberapa inisiatif berkaitan dengan kegiatan pendampingan telah dicobakan untuk beberapa kelompok. Pendampingan pada kelompok khusus menggunakan pendekatan intervensi usaha kecil. Tidak semua orang merasa nyaman dengan pendekatan usaha. Membentuk kelompok usaha memerlukan permodalan mandiri, tidak bisa dilakukan melalui hibah atau bantuan langsung. Memperlakukan kelompok usaha dengan memberikan hibah atau bantuan langsung akan mematikan semangat dan moral usaha. Setiap orang yang tergabung dalam kelompok usaha harus memiliki komitmen untuk menjalankan usaha dengan kemampuan dan pengetahuan yang harus sudah dimiliki dan diyakini. Oleh karena kelompok yang mendapat pendampingan khusus ini masih cukup sensitif dalam menghimpun permodalan usaha, maka kelompok ini anggotanya tidak banyak. Dalam kegiatan pendampingan ini hanya di desa Labuhan Ratu 7 dan Braja Yekti yang berhasil dibentuk untuk mengelola produksi pupuk hayati, kompos dan pemijahan ikan. Kelompok hingga saa ini telah memiliki aset, sarana produksi dan tata kelola produksi.


Perkembangan dan Capaian Kelompok Perikanan
di Desa Labuhan Ratu 9, Labuhan Ratu 7 dan Braja Yekti


Desa
Nama Kelompok
Kegiatan
Fasilitas yang berkembang
Braja Yekti
Harapan Maju
pembesaran lele, pembesaran gurame, pemijahan lele.
Anggota 10 orang, membesarkan ikan lele dan gurame di kolam terpal dan kolam tanah. Memiliki kemampuan memijahkan lele tetapi tidak memiliki sarana pemijahan.
Labuan Ratu 9
Sumber Rejeki
Pembesaran lele
Anggota 10 orang, membesarkan lele di kolam terpal, kolam semen, dan kolam tanah.
Labuan Ratu 7
Sinar Tangkuban Perahu
Pembesaran lele di kolam terpal dan kolam tanah
Anggota 16 orang, telah berhasil beberapa kali panen.


Irama kehidupan di pedesaan masih terus berjalan seperti biasa. Biaya pertanian yang tinggi dengan penggunaan pupuk kimia, herbisida dan pestisida yang sangat mengkuatirkan. Masyarakat memiliki tingkat kesulitan yang tinggi untuk mendapatkan biaya hidup harian. Harian orang kerja (HOK) di tiga desa dampingan memang cukup tinggi atau dari 50 – 100 ribu per hari, namun tidak setiap hari ada pekerjaaan. Kebutuhan uang harian untuk rumah tangga sangat sulit diperoleh masyarakat biasa. Hasil pertanian tidak menentu, ada kala pertanian gagal panen sampai berkali-kali. Kesulitan ekonomi harian tidak hanya dihadapi oleh kalangan masyarakat desa biasa. Keluarga yang terlihat mampu dan memiliki lahan pertanian luas atau memiliki rumah bagus dan kendaraan juga mengalami hal yang sama. Hanya keluarga dari pegawai atau pekerja perusahaan yang mengandalkan gajih bulanan yang dapat hidup tenang karena tidak harus dipusingkan dengan uang harian untuk keperluan dapur, anak sekolah atau biaya mondar mandir lainnya.

Ekonomi masyarakat desa yang tidak menentu adalah salah satu penyebab yg membuat masyarakat desa tidak memiliki jaminan sumber pendapatan yang jelas. Lapangan kerja yang sulit dan tidak selalu tersedia. Di beberapa dusun, masih banyak masyarakat yang mengandalkan hidup dari kegiatan berburu atau pengumpul hasil alam secara langsung. Di kali Penet banyak orang dari desa Braja Yekti dan sekitarnya yang memasang jaring ikan atau memancing untuk keperluan hidup. Setiap hari setiap orang dapat mengangkat ikan atau udang yang dijual untuk mendapatkan uang keperluan rumah. Gambaran ini sebenarnya bisa menjadi tanda bahwa diam-diam masyarakat juga masih masuk ke dalam Taman Nasional untuk mencari ikan. Dari cerita masyarakat menjelaskan bahwa setiap saat masih banyak yang berburu ke dalam Taman Nasional. Masuk ke dalam Taman Nasional tidak bisa dilakukan sendiri. Biasanya lebih dari 3 orang. Di dalam Taman Nasional mereka bisa mengambil apa saja. jika tidak dapat ikan mereka juga bisa bermalam dan berburu menjangan atau apa saja yang ada di dalam hutan. Ada hal yang menarik dari pengakuan pemburu, bahwa untuk masuk ke dalam biasanya ada pesanan dari orang dalam atau aparat polisi atau tentara dan dijamin aman. Jika ada penangkapan, itu biasanya ada kelompok lain dan persaingan dari para orang dalam sendiri dan masyarakat akan tetap yang menjadi korban. Orang dalam yang menyuruh tidak pernah mau bertanggung jawab.

Proses terus berjalan meskipun hingga saat ini belum dihasilkan bahasa yang sama tentang ‘apa yang akan dicapai’ dan ‘kemajuan yang sudah dicapai’ atau dengan kata lain elaborasi ‘kriteria kemajuan’ dan ‘sistem indikator kemajuan’, yang bisa dibuat bersama belum bisa dihasilkan terutama dalam kaitannya dengan penyelamatan bentang alam Taman Nasional. Proses itu masih sangat sulit dan rumit. Belum ada pertemuan bersama yang digagas bersama baik secara formal maupun informal yang mampu menghimpun semua kepentingan stake holder.

Arah Pengembangan Masyarakat ke Depan

Dari pengalaman selama dua tahun pendampingan, saat ini sudah ada 4 kelompok yang sudah mulai berjalan dengan pola usaha. Kelompok yang ada di Labuhan Ratu 7 bukan berkembang dari kelompok yang sudah ada sebelumnya, tetapi kelompok baru yang anggotanya adalah petani sayuran yang selama ini sudah melakukan kegiatan secara sendiri-sendiri. Satu kelompok yang bergerak dalam pemijahan ikan juga sudah terbentuk di Labuhan Ratu 7. Kelompok yang ada di Braja Yekti berkembang dari kelompok perikanan yang ada. Tidak semua anggota kelompok perikanan bisa bergabung dalam kelompok usaha oleh karena belum mampu menyetorkan uang keanggotaannya. Di Braja Yekti juga terdapat kelompok yang mengusahakan kompos. Kelompok kompos di Braja Yekti justeru anggotanya berasal dari kelompok wisata.

Kelompok Usaha Bumi Tani Mandiri di dusun Plangkawati Labuhan Ratu 7. Kelompok ini mengusahakan pembuatan pupuk hayati dan kompos. Kelompok sudah memiliki asset instalasi produksi pupuk hayati dan lahan untuk pembuatan kompos. Aset yang berhasil dikumpulkan dari iuran anggota sudah mencapai 10 juta. Kelompok juga sudah memiliki tata kelola dan sistem keuangan yang terus diperbaiki. Kelompok Bumi Tani Mandiri sudah memproduksi pupuk hayati dan sudah diuji coba dalam penerapan untuk tanaman padi dan sayuran. Dalam uji coba mendapatkan hasil yang baik dengan menunjukkan peningkatan hasil dan penurunan biaya tani. Meskipun sudah banyak permintaan, produksi pupuk hayati dari kelompok ini masih belum bisa memenuhi kebutuhan desa. Produksi pupuk hayati kelompok masih digunakan oleh anggota dan kerabatnya. Dalam satu siklus tanam, produksi yang dihasilkan oleh kelompok hanya mencapai 750 liter. Jumlah itu hanya cukup untuk memenuhi lahan seluas 50 ha. Potensi lahan di desa Labuhan Ratu 7 adalah lebih dari 300 ha (dalam data BPS Lampung Timur hanya tercatat 14 ha) atau memerlukan pupuk hayati sekitar lebih dari 2.000 liter dalam satu siklus tanam. Jumlah itu hanya untuk pertanian padi, belum keperluan untuk tanaman sayuran, buah, tanaman keras dan ternak.


Pembuatan Kompos di Labuhan Ratu 7

Produksi Kompos di Braja Yekti

Produksi kompos Bumi Tani Mandiri di Labuhan Ratu 7 masih mengalami hambatan pen
ingkatan kapasitas produksi karena kendala pendanaan. Saat ini kelompok sudah mampu menyediakan bahan baku, namun oleh karena saat ini musim panen banyak tenaga kerja yang terserap di pertanian. Potensi penggunaan kompos di Labuhan Ratu 7 sendiri bisa mencapai 6.000 ton lebih dalam satu siklus musim tanam untuk penggunaan 20 ton kompos per hektar. Saat ini skala uji coba produksi kompos sudah dilakukan oleh kelompok usaha di Braja Yekti. Kelompok di Braja Yekti baru bisa memproduksi sampai 10 ton kompos siap pakai.

Pemenuhan pupuk kompos untuk pertanian juga bisa dilakukan melalui pembangunan instalasi digester biogas. Bahan baku untuk input biogas dapat dipenuhi dari biomas dan ternak yang jumlahnya cukup banyak di desa dampingan. Upaya pembangunan digester biogas akan banyak memberi manfaat pada penyediaan pupuk dan energi. Biogas juga akan bisa mengatasi sanitasi kandang yang memutus rantai penyakit agar tidak menyebar sampai ke dalam TNWK.


Jumlah Ternak di 3 Desa Dampingan (sumber: Braja Selebah Dalam Angka BPS Kabupaten Lampung Timur 2014 dan Labuhan Ratu Dalam Angka BPS Kabupaten Lampung Timur 2014)

Sapi
Kerbau
Kambing
 Domba
Labuhan Ratu 9
216
101
2718
1219
Labuhan Ratu 7
329
172
1256
437
Braja Yekti
350
240
190
0

Dari hasil pelatihan yang dibuat pada tahun pertama program, di desa dampingan saat sudah memiliki tenaga yang mampu membangun digester sendiri. Oleh karena biaya pembangunan digester biogas yang masih cukup tinggi bagi rumah tangga petani maka pertumbuhan pembangunan digester masih sangat lambat. Saat ini sedang dilakukan upaya untuk menyederhanakan dan menurunkan biaya pembangunan digester yang baik, murah dan terjangkau oleh masyarakat.


Biogas digester


Beberapa percobaan telah berhasil dengan membangun digester biogas mini ukuran 1 m3. Usaha ini cukup berhasil hanya saja perlu penyempurnaan desain dan beberapa penyempurnaan terutama untuk volume gas yang dihasilkan. Sedangkan jika hanya digunakan mengambil slurry untuk pupuk, dari 1 m3 bisa dihasilkan slurry sampai 200 liter per minggu.


Desain Cetakan untuk Biogas dan Kolam Ikan

Pembangunan digester biogas hasil rancangan yang baru hanya membutuhkan cetakan yang sudah memiliki desain dan dibuat oleh kelompok. Pembuatan desain telah diuji coba oleh kelompok di Plangkawati. Cetakan bisa diperbanyak dan digunakan sendiri oleh masyarakat. Biaya bahan bangunan akan lebih murah dan efisien. Model cetakan yang dibuat direncanakan juga untuk membuat kolam ikan. Jika digunakan untuk kolam ikan bisa menjadi penahan kolam terpal atau langsung untuk membuat kolam semen.

Kolam terpal sangat mudah rusak dan tidak tahan lama. Kolam terpal yang digunakan sebagai demplot pada tahun pertama sudah banyak yang rusak dan pada umumnya masyarakat tidak mampu mengganti dengan yang baru. Budidaya ikan memerlukan biaya yang cukup tinggi. Untuk memelihara lele 3.000 ekor membutuhkan biaya sekitar 3 juta rupiah. 3.000 ekor lele jika kematiannya kurang dari 10% akan mendapatkan panen konsumsi sekitar 300 kg dalam waktu 60 hari lebih. Perhitungan itu menunjukkan keuntungan selama 2 bulan sekitar 1,5 juta atau 750 ribu rupiah sebulan. Perputaran uang sangat lambat, dengan biaya 3 juta untuk bibit dan pakan dirasa sangat besar bagi petani. Biaya itu belum termasuk biaya kolam dan air. Tidak semua petani mampu menyediakan biaya sebesar itu. Di masa depan memelihara lele tidak harus diperhitungkan dengan pakan dan bibit. Dengan kolam kecil yang permanen dan bibit lele yang bisa diusahakan sendiri oleh petani, diharapkan budidaya ikan bisa menjadi pekerjaan sampingan. Pakan ikan tidak perlu dibeli tetapi bisa didapat dari cacing, keong, larva serangga atau sisa makanan. Petani hanya membutuhkan kolam permanen yang tahan lama dan murah yang bisa dibuat dengan membuat cetakan untuk semua anggota kelompok.

Model cetakan hanya pada awalnya membutuhkan biaya cukup besar, setelah cetakan jadi akan bisa digunakan untuk membuat berbagai keperluan seperti digester biogas, kolam ikan atau bak fermentasi untuk kompos dan pakan ternak. Cetakan bisa dibuat dari kayu, fiber glass, plat besi atau bahan lain yang kuat dan tahan lama.

Usaha pembenihan ikan juga sudah dilakukan di Labuhan Ratu 7 dan Braja Yekti. Di Labuhan Ratu 7 telah mampu menghasilkan benih ikan lele dan nila. Di Braja Yekti oleh karena masih banyak kendala baru bisa membangun sarana pemijahan. Beberapa kali uji coba untuk pembenihan di instalasi pembenihan kelompok Braja Yekti telah berhasil menghasilkan benih lele. Kendala utama dalam pembenihan ikan adalah pengadaan cacing sutra untuk pakan larva. Harga cacing sutra cukup mahal dan masih didatangkan dari luar. 


Cetakan Kolam dan Instalasi Pembenihan Ikan di Braja Yekti

Gambaran itu menunjukkan bahwa potensi usaha dan jika arah ke depan pengembangan kegiatan adalah untuk menyokong pelestarian bentang alam TNWK melalui kegiatan usaha berbasis lahan yang intensif dan berkualitas, maka kebutuhan itu sudah bisa dipenuhi oleh masyarakat sendiri. Dalam uji coba yang sudah dilakukan untuk tanaman padi dan timun, semua keperluan kompos dan pupuk untuk produksi dibeli dari kelompok. Biaya produksi menjadi menurun dengan hasil berkualitas. Untuk padi menghasilkan gabah setara dengan 8 ton/ ha dan timun mampu panen hingga 1 bulan.

Ujicoba menggunakan Pupuk BTM Plus (Bio Hayati + Slurry Biogas) untuk tanaman Timun, Padi dan Terong dalam skala usaha 0,25 ha

Perputaran uang untuk biaya produksi juga akan mengalir ke dalam. Kelompok usaha yang memroduksi kompos dan pupuk hayati akan semakin berkembang. Kendala untuk pengembangan usaha yang utama adalah hanya karena kapasitas kemampuan investasi masyarakat sangat kecil maka kapasitas kemampuan produksi juga tidak bisa ditambah.

Desa, kawasan pertanian, rawa, sungai, kawasan Taman Nasional, daerah pemukiman dan lainnya secara keseluruhan merupakan komponen bentang alam. Tujuan utama mengelola kawasan adalah mendapatkan keseimbangan antara konservasi alam dan maanfaatnya bagi kehidupan umat manusia yang berkelanjutan. Tujuan tata kelola keseluruhan bentang alam adalah:

·        Menyediakan penghasilan dan penghidupan bagi banyak orang;
·        Memproduksi makanan dan serat alam, juga menjaga 10 persen energi melalui biomassa;
·        Menjaga jasa ekosistem penting seperti keragaman hayati, suplai air, ketahanan ekosistem dan produktivitas lahan.

Arah pendampingan masyarakat ke depan dalam kaitan tata kelola bentang alam TNWK harus dapat menjawab tiga komponen yaitu menyediakan penghasilan dan penghidupan bagi banyak orang, memproduksi pangan, serat dan energi biomas, serta menjaga ekosistem penting seperti kekayaan keanekaragaman hayati, suplai air, ketahanan ekosistem dan produktivitas lahan. Apa yang akan dicapai dan kemajuan apa yang sudah dicapai atau dengan kata lain harus ada rincian kriteria kemajuan dan sistem indikator kemajuan yang harus bisa dibuat bersama oleh semua stakeholder, harus bisa dihasilkan. Dalam kegiatan ke depan rincian itu harus diupayakan. Harus diupayakan pertemuan bersama yang digagas bersama baik secara formal maupun informal yang mampu menghimpun semua kepentingan stake holder, dari mulai level kelompok, kabupaten, propinsi hingga level nasional.

Bertahap di level kelompok sampai level desa secara sederhana sedang diupayakan untuk menyusun konsep rancangan ke depan tentang kriteria ‘apa yang akan dicapai’ dan sistem indikator kemajuan’ apa yang akan digunakan untuk dapat menampung kepentingan ekonomi semua stake holder di level kelompok dan level desa (kepentingan luar kawasan dan ekonomi berbasis lahan), pendapat dan perencanaan dari fasilitator lapangan dan berbagai kepentingan setempat (komprehensif, non sektor dan diterima semua), melibatkan semua kelompok, pemerintahan desa dan multi stake holder (multi goal, jangka panjang dan sustaianable). Model ini hampir sejalan dengan konsep yang sedang dijalankan oleh perangkat desa dalam menyusun RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) yang difasilitasi oleh Tim 11 yang dibentuk oleh desa. Desa akan memiliki perencanaan pembangunan sendiri. One village one plan. Rencana kelompok meskipun sederhana dalam kaitannya dengan tata kelola bentang alam diharapkan dapat terintegrasi dalam RPJM desa.

Dalam beberapa diskusi seringkali muncul perdebatan yang masih berkisar tentang konflik pertanian dan satwa, hasil dan biaya pertanian, hama dan penyakit pertanian dan kekeringan. Jarang dan tidak pernah ada diskusi bersama antara kepentingan ekonomi dengan pelestarian dan perlindungan Taman Nasional dengan satwa badak, gajah, harimau, tapir, beruang atau burung yang ada. Kenyataan ini menunjukkan bahwa tujuan yang komprehensif, inclusif dan mampu mengelola multi goal yang simultan untuk Taman Nasional sebagai bentang alam ‘kawasan yang memiliki tata kelola’ masih harus terus diupayakan.

Selain isu tentang gangguan gajah dalam pertanian yang tidak pernah selesai (mitigasi konflik gajah dibahas sendiri oleh WCS sebagai bagian dari konsorsium YABI), kekeringan dan hama penyakit tanaman adalah isu penting yang saat ini sedang dihadapi masyarakat. Pada tahun 2014 hampir seluruh desa di kecamatan Labuhan Ratu dan Kecamatan Selebah Lampung Timur mengalami gagal panen padi sampai 2 kali oleh hama tikus. Selain hama dan penyakit, gagal panen juga disebabkan faktor air. Tahun 2014 sempat terjadi kekeringan yang panjang hingga sumur penduduk di pemukiman kering dari bulan Juli hingga bulan Oktober. Kekeringan yang mengakibatkan gagal panen dan rusaknya tananaman hortikultura juga mengakibatkan banyak kolam ikan rusak dan tidak bisa digunakan lagi.

Isu Utama di level masyarakat desa sekitar TNWK

Wilayah paling dekat dan memiliki interaksi yang tinggi dengan TNWK adalah kecamatan Labuhan Ratu dan kecamatan Selebah. Wilayah ini memiliki kepadatan penduduk cukup tinggi. Banyak desa yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional. Hampir setiap tahun terjadi kasus perburuhan yang melibatkan orang dari desa di kecamatan Labuhan Ratu dan Selebah. Beberapa kasus bahkan sampai ke kepolisian dan pengadilan karena penggunaan senjata api untuk berburu.

Isu utama yang tercatat dari kegiatan pendampingan di masyarakat selama ini adalah:

·        Tekanan pada bentang alam TNWK dapat dikurangi melalui ketahanan masyarakat desa penyangga terhadap perubahan iklim dan tata kelola penggunaan lahan berkelanjutan.

Untuk memperkuat ketahanan masyarakat desa terhadap perubahan iklim dan melakukan tata kelola penggunaan lahan secara berkelanjutan, dapat dilakukan upaya:

·        Masyarakat perlu berupaya untuk mengatasi kekeringan dan gagal panen yang mengakibatkan kesulitan dalam pertanian dan perikanan. Gagal panen mendorong masyarakat masuk ke TNWK mencari ikan, berburu dan memungut hasil hutan non kayu dari dalam hutan.
·        Masyarakat perlu meninggalkan orientasi pada produksi pertanian yang mengedepankan kuantitas dan ekstensive, penggunaan lahan yang tidak efisien, biaya tinggi dan mengundang satwa liar ke luar dari Taman Nasional
·        Masyarakat perlu menata lingkungan pedesaan, memperbaiki sanitasi yang buruk dan mengurus ternak dengan baik, penataan lingkungan yang baik akan mendukung kegiatan pelestarian dan wisata. Sanitasi dan kandang ternak yang buruk mempermudah penyebaran penyakit baik dari dalam Taman Nasional ke luar maupun dari desa ke Taman Nasional.
·        Perlu dilakukan integrasi kegiatan di dalam TNWK dan memberikan akses pada masyarakat (community engagement) untuk memperoleh manfaat dari TNWK

Memperkuat ketahanan masyarakat desa penyangga TNWK menghadapi ancaman perubahan iklim

Kekeringan dan gagal panen berakibat buruk pada pertanian dan perikanan. Gagal panen mendorong masyarakat masuk ke TNWK mencari ikan, berburu dan memungut berbagai hasil hutan non kayu yang bisa menjadi uang untuk keperluan hidup harian. Dengan kegiatan ini masyarakat diharapkan akan mampu berupaya mengatasi kekeringan yang berkaitan dengan kegiatan pertanian dan dapat lebih peduli dengan konservasi air di sekitar TNWK. Kegiatan yang diusulkan antara lain:

1.      Aktif mengupayakan perlindungan sumber air dan rawa di sekitar desa penyangga untuk mengatasi kekeringan dan kekurangan air untuk pertanian dan perikanan dengan melakukan Workshop multi stakeholder (TNWK, Pemda, Masyarakat) tentang konservasi air dan perubahan iklim sehingga diharapkan dapat menemukan upaya bersama yang tepat dan mendapat dukungan semua pihak.

2.      Membangun komitmen bersama tentang pelestarian air di TNWK dan sekitarnya dengan membuat kesepakatan bersama untuk pelestarian air di sekitar desa penyangga TNWK.

3.      Pembentukan Kelompok Perlindungan Air di 4 desa penyangga  sekitar TNWK (Labuhan Ratu 9, Labuhan Ratu 6, Labuhan Ratu 7 dan Braja Yekti) kolaborasi dengan pengurus tata air desa yang sudah ada. Kegiatan ini meliputi pembentukan Kelompok, pembentukan pengurus dan membuat program kerja tahunan.

4.      Membuat model sumur resapan dan percontohan di beberapa lokasi di setiap desa. Kegiatan ini meliputi pembuatan desain dan pembuatan sumur resapan.

5.      Penanaman dan pemeliharaan pohon di sekitar sumber, badan air dan rawa oleh kelompok masyarakat sekitar desa penyangga TNWK. Kegiatan yang dilakukan meliputi pembuatan desain dan sistem penanaman yang disepakati, pengawasan penanaman dan pemeliharaan tanaman.

Pengelolaan intensive sumber daya dan ekonomi berbasis lahan masyarakat desa berkelanjutan yang mendukung kegiatan wisata desa dan penyediaan lapangan kerja

Orientasi produksi pertanian yang selama ini berjalan lebih mengedepankan kuantitas dan ekstensive, penggunaan lahan tidak efisien, biaya tinggi dan mengundang satwa liar ke luar dari Taman Nasional. Untuk mengubah orientasi yang selama ini sudah berjalan, sangat perlu untuk membuat model usaha berbasis lahan yang dimiliki dan dikelola oleh masyarakat desa penyangga sendiri. Kegiatan ini juga akan sangat mendukung kegiatan wisata dan penyedia lapangan kerja di pedesaan. Kegiatan yang diusulkan antara lain:

1.      Membuat Model Usaha Pertanian Intensive Permanen yang dikelola kelompok usaha di setiap desa penyangga. Kegiatan ini meliputi Pembinaan Kelompok Usaha Tani yang sudah ada, Pembuatan Rancangan Model Usaha Pertanian Intensive Permanen yang dikelola masyarakat, Pengolahan Lahan Pertanian Intensive Permanen, Penanaman 5 jenis Komoditas Pertanian dalam satu siklus produksi.

2.      Membuat Model Usaha Pengolahan, Pengemasan dan Pemasaran Singkong, Kakao, Buah2an dan sayuran berkualitas tinggi yang dikelola kelompok usaha di setiap desa penyangga. Kegiatan ini meliputi Pembinaan Kelompok Usaha Pengolahan, Pengemasan dan Pemasaran yang sudah ada di masyarakat; Pembuatan Rancangan dan Penerapan Model Usaha Pengolahan, Pengemasan dan Pemasaran yang dikelola masyarakat dalam satu siklus produksi.

3.      Membuat Model Usaha Pembibitan Tanaman Keras, Tanaman Buah dan Tanaman Pertanian yang dikelola kelompok usaha di setiap desa penyangga (kaitan dengan konservasi air). Kegiatan ini meliputi Pembinaan Kelompok Usaha Pembibitan Tanaman Keras, Tanaman Buah dan Tanaman Pertanian yang sudah ada di masyarakat; Pembuatan Rancangan dan Penerapan Model yang dikelola Kelompok Usaha Masyarakat dalam satu siklus produksi.

4.      Membuat Model Usaha Pembibitan Ikan yang dikelola kelompok usaha di setiap desa penyangga TNWK. Kegiatan ini meliputi Pembinaan Kelompok Usaha Pembibitan ikan milik masyarakat yang sudah ada; Pembuatan Rancangan dan Penerapan Model yang dikelola Kelompok Usaha Masyarakat dalam satu siklus produksi.

5.      Membangun instalasi sarana pendukung pertanian (kompos dan Agen Hayati) yang dimiliki dan dikelola oleh masyarakat. Kegiatan ini meliputi Pembinaan Kelompok Usaha Pupuk Hayati dan Kompos milik masyarakat yang sudah ada; Pembuatan Rancangan dan Penerapan Model yang dikelola Kelompok Usaha Masyarakat dalam satu siklus produksi.

Peningkatan kualitas rumah tangga pedesaan yg berbasis pengetahuan, sehat dan aman dalam mendukung kegiatan konservasi badak dan harimau, kegiatan ekowisata dan wisata desa di masyarakat

Lingkungan pedesaan yang kurang tertata dengan sanitasi yang buruk dan ternak yang kurang terurus, kurang mendukung kegiatan pelestarian dan wisata. Sanitasi dan kandang ternak yang buruk mempermudah penyebaran penyakit baik dari dalam Taman Nasional ke luar maupun dari desa ke Taman Nasional. Penataan lingkungan pedesaan di desa penyangga perlu dilakukan pada tingkat Resot melalui koordinasi dengan desa dan kelompok masyarakat yang sudah ada dengan melakukan kegiatan:

1.      Membuat Model Lingkungan Sehat dengan perumahan yang memiliki sanitasi (rumah dan kandang ternak), kandang ternak yang baik dan sehat, instalasi biogas, taman pekarangan, kolam ikan rumah tangga dan penggunaan listrik hemat energi untuk rumah tangga di pedesaan sekitar TNWK. Kegiatan ini meliputi Membuat Rancangan model Lingkungan Sehat yang mudah diterapkan dan bisa disepakati bersama; Menyediakan komponen pendukung (cetakan, peralatan dan bahan) pembuatan sarana sanitasi, kandang ternak yang baik, instalasi biogas, kolam ikan pekarangan, peralatan listrik dan tenaga ahli; Pembangunan beberapa Model sebagai contoh di beberapa desa.
2.      Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang konservasi badak dan harimau di TNWK bersama kelompok yang sudah ada. Kegiatan meliputi Mengumpulkan cerita rakyat yang berkaitan dengan badak dan harimau; Kompilasi informasi yang berkaitan dengan badak dan harimau; Menerbitkan berbagai media (buku cerita bergambar, internet, poster, leaflet dan brosur) tentang badak dan harimau di TNWK.
3.      Membangun sarana pertemuan rumah pintar di tiap desa dilengkapi dengan perpustakaan, peralatan audio visual dan jaringan internet untuk umum. Kegiatan meliputi Penerbitan berbagai media (buku cerita bergambar, internet, poster, leaflet dan brosur) tentang badak dan harimau di TNWK; Penyediaan iniformasi tentang badak dan harimau serta kaitannya dengan konservasi habitat di TNWK melalui rumah pintar yang dibangun di setiap desa penyangga; Penyebaran informasi tentang badak dan harimau di TNWK secara langsung melalui kunjungan ke balai desa, sekolah atau tempat umum lainnya; Kunjungan langsung ke sekolah, tempat umum dan event nasional.

integrasi kegiatan di dalam TNWK dan memberikan akses pada masyarakat (community engagement) untuk memperoleh manfaat dari TNWK.

Pada daerah yang memiliki interaksi dengan Taman Nasional yang tinggi, perlu dilakukan fasilitasi untuk membuat kesepakatan dengan masyarakat dalam hal pengembangan ekowisata dan pencegahan perburuan. Kegiatan yang berkaitan dengan upaya kesepakatan pengembangan ekowisata dan pencegahan perburuan ini adalah:

1.      Memfasilitasi pertemuan multi stakeholder untuk penataan dan pengembangan kawasan ekowisata di TNWK. Kegiatan ini meliputi Workshop multi stakeholder (TNWK, Pemda, Masyarakat) tentang Pengembangan Ekowisata di TNWK di tingkat propinsi (Bandar Lampung) dan nasional (Jakarta); Pembinaan Kelompok Sadar Wisata yang sudah dibentuk melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampung Timur dan kelompok lainnya yang berkaitan dengan wisata desa di desa penyangga sekitar TNWK.
2.      Mambangun fasilitas pendukung ekowisata di beberapa lokasi di dalam TNWK dan wisata desa yang sudah disiapkan oleh kelompok wisata desa. Kegiatan ini meliputi Membangun hiding place untuk pengamatan badak di lokasi sekitar SRS dan pengamatan satwa lainnya di Rawa Kidang; Menjalankan dan menguji paket ekowisata dan wisata minat khusus di dalam TNWK yang terintegrasi dengan wisata desa di sekitar desa penyangga TNWK.
3.      Monitor kegiatan perburuan yang melanggar batas dengan acuan kesepakatan yang sudah dibuat dengan desa. Kegiatan ini meliputi kegiatan monitoring bersama desa.

Kegiatan ini juga perlu mendapatkan jaminan dukungan dari stakeholder yang memiliki pengaruh besar pada kegiatan yang memberi manfaat pada masyarakat (community engagement). Kegiatan ini meliputi:

1.      Membuka komunikasi barkaitan dengan rencana dan dasar pemikiran kegiatan pada Kepala Daerah dan tokoh atau pejabat senior pemerintahan untuk mendapatkan dukungan yang besar secara politik maupun pendanaan yang dapat memberi manfaat pada masyarakat.
2.      Bisa mengambil manfaat dan dukungan dari Perusahaan (tingkat internasional) yang beroperasi di kawasan, dengan membuat beberapa kali pertemuan bersama Perusahaan yang beroperasi di sekitar TNWK.
3.      Melakukan evaluasi kemungkinan untuk membawa semua stakeholder agar bisa membuat komitmen untuk kegiatan berikutnya dengan melakukan pertemuan tahunan bersama semua stakeholder.

Bahan Bacaan:

Olwig Kenneth R.: Recovering the Substantive Nature of Landscape. Annals of the Association of American Geographers Vol. 86, No. 4 (Dec., 1996), pp. 630-653
BPS Kabupaten Lampung Timur: Braja Selebah Dalam Angka (2014)
BPS Kabupaten Lampung Timur: Labuhan Ratu Dalam Angka (2014)
Wikipedia Bahasa Indonesia: http://id.wikipedia.org/wiki/Bentang_alam diakses: 23/05/2015
Holmgren Peter: Bentang Alam (bag. 1, 2 dan 3)., (http://blog.cifor.org/19826/bentang-alam-bagian-1-mengapa-bentang-alam-penting), diakses: 23/05/2015
Soetrisno Bambang Ryadi., dkk: ASSESSMENT DEMONSTRATION SITE EFFICIENCY: COMPARATIVE ECONOMY BENEFIT BIOGAS AND FOSSIL FUEL (Bogor 2013)
Bismark., M dan Endang Karlina: Pengembangan dan Pengelolaan Daerah Penyangga Taman Nasional Sebagai Upaya Pengelolaan Kawasan Konservasi Berkelanjutan.; Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi Oktober 2014.
UU no 6 Tahun 2014 Tentang Desa
PP no 43 Tahun 2014 Tentang Peraturan Pelaksanaan UU no 6 Tahun 2014 Tentang Desa
----------

Tulisan ini adalah salah satu dari beberapa seri tulisan dari hasil pendampingan masyarakat di desa Labuhan Ratu 9, labuhan Ratu 7 dan Braja Yekti selama 2 tahun.