| KampungBio Tulisan 1 dari 7 Meletakkan dasar pemikiran BioVillage Planning for a Carbon Neutral World: Challengers for Cities and Regions |
Hans Harms:
Dua Perspektif (dari India dan Eropa)
pada Perencanaan Carbon Neutral World,
focus pada pertanian
Perhatian saya pada paper ini adalah untuk memperluas diskusi konferensi kita tentang "Planning for a Carbon Neutral World: Challengers for Cities and Regions", dari perspektif orang Eropa dan Amerika pada suatu perspektif global termasuk Negara berkembang dan terutama India. Dengan demikian, pertama saya akan memberikan informasi tentang konteks global dari pembangunan. Kedua, saya mencoba untuk menyampaikan sebuah perspektif dari India, (saya telah mengelilingi India, dan akhir tahun kemarin ikur berpartisipasi dalam suatu perjalanan studi yang sangat informastif ke Tamil Nadu dan Kerala di Selatan India). Kemudian saya akan mempresentasikan beberapa hasil dari diskusi Internasional terbaru dan konferensi global tentang topik perubahan iklim dan kemiskinan, dan tentang "apa yang perlu kita selesaikan" dengan beberapa contoh tentang kegiatan lokal dari Selatan India, dan akhirnya akan saya gambarkan kesimpulannya.
Global Konteks
Saat ini globalisasi dunia mempunyai kontradiksi yang sangat dalam. Di satu sisi, ada perkembangan saling tergantung, pertukaran dan interaksi antara banyak tempat berbeda di dunia. Di sisi lain terdapat bagian yang besar di dunia dan kelompok masyarakat yang secara virtual ada di luar dalam arti bisa berinteraksi dengan dunia yang ada saat ini. Mereka mengalami stagnasi dan keterpurukan, ketidak-amanan dan terganjal dengan kekacauan sosial, dan bahkan kepalsuan ekonomi dan penghancuran politis melalui kelaparan dan peperangan. Sekitar 40% penduduk dunia tinggal di komunitas masyarakat seperti itu. Pengetahuan kemanusian yang berkembang dan meningkatnya kemampuan akses pada sumber daya dan teknologi cukup kuat untuk menghapus kemiskinan, perampasan masal, dan keadaan yang membosankan, tidak bicara tentang perombakan bentuk perburuhan. Sekitar sepertiga kehidupan manusia masih hidup dengan uang kurang dari dua dolar per hari, bahkan ada sekitar 1,2 milyard yang hanya dengan satu dolar setiap hari. Mereka semua itu mempunyai kontribusi sangat besar pada perubahan iklim, seolah-olah akibat mereka daripada oleh negara-negara makmur di Utara. (Bidwai, P., 2006. p.31; and UN, Dept. Of Economic and Social Affairs, 2005: Report on the World Social Situation 2005: The Unequal Predicament).
Utara Selatan mempunyai perbedaan yang sangat buruk. Diukur dengan rasio pendapatan rata-rata di negara industri dan negara berkembang, ada kenaikan secara kasar dari 30:1 pada akhir PD II menjadi 60:1 pada tahun 1970 dan sekarang meningkat di atas 90:1. Bagaimanapun dalam banyak hal, kesalahan utama bukan antara bagian dunia Utara dan bagian dunia Selatan. Lebih dari itu kuncinya adalah perbedaan kelas dan kelompok sosial yang ada di ke dua bagian dunia itu. Ada Selatan di banyak negara-negara Utara sebagian besar masyarakatnya ditandai dengan kemisikinan yang kronis, pengangguran dan ekonomi yang lemah. Dan ada Utara di dalam Selatan, ada banyak enklav-enklav kemakmuran, mempunyai hak-hak istimewa dan mengkunsumsi sumber-sumber daya yang sangat tinggi dibanding dengan (dan di beberapa tempat lebih tinggi) dari pada pola konsumsi di negara-negara yang makmur di Utara. Ukuran kelas kemakmuran di negara-negara Selatan saat ini sudah berkembang. Menurut kalkulasi (Merril Lynch, 2004) sebanyak 3,3 juta dari 7,6 juta orang-orang yang super makmur di dunia dengan aset finansial lebih dari satu juta US dolar (di luar kekayaan yang tidak bergerak) hidup di negara-negara Selatan.
Dengan industrialisasi dan rantai produksi yang menyebar di seluruh dunia, pembagian kerja baru saat ini sedang melakukan konsolidasi: tidak hanya buruh ahli bergerak dari Utara ke Selatan, terjadi juga pada polusi, industri kotor dan berbahaya, dan kegiatan-kegiatan saat ini bergerak ke negara-negara sedang barkembang. Selatan juga menjadi lokasi utama untuk produksi racun kimia dan pupuk, kita tidak bicara soal pembuangan limbah industri dan sampah perkotaan. Utara menuai keuntungan dari pembagian ini dan menghindari polusi yang dihasilkan dari proses produksi di negara-negara itu, meskipun sebagai konsumen dari tiga per empat sumber daya yang ada di planet ini. (Bidwai, P., 2006, p.37-38)
Eropa dan negara-negara maju kapitalis di Utara mempunyai stadard hidup lebih tinggi (diukur dengan kriteria seperti: pemilikan mobil dan GNP per kapita), mereka mengkonsumsi bahan bakar fosil lebih tinggi dan menghasilkan emisi karbon di dunia lebih tinggi per kapita, dan AS adalah negara yang menempati urutan pertama. Penggunaan pupuk (kg/km2) di negara-negara Eropa amat sangat tinggi. Perubahan iklim dan krisis lingkungan disebabkan oleh semua hal di atas di Utara, oleh konsumsi sumber daya yang berlebihan dan oleh metode intensif kapital dan penggunaan pupuk kimia untuk intensifikasi pertanian. Sebagai tambahan, lembaga internasional (Bank Dunia, IMF) mendominasi dengan "ahli ekonomi" dari Utara, sejak tahun 1970an menerapkan dogma neoliberalisme dari market orthodoxy dan mendorong pembebasan "free market" dan "structural adjustment" pada negara-negara kurang berkembang. (Tujuannya untuk menghilangkan hambatan kapital dan untuk memperluas jangkauan kapital sejauh mungkin.) Permintaan mereka untuk privatisasi infrastruktur dan pelayanan publik dan untuk mengurangi peranan negara (seringkali dilakukan dengan tekanan pemaksaan) muncul dalam banyak kasus dalam pengambil-alihan oleh korporasi internasional yang disertai dengan meningkatnya pembiayaan, tanpa perbaikan infrastruktur dan pelayanan untuk kaum miskin. (Sebagai contoh: setelah privatisasi sumber daya air di Bolivia kepada Bechtel Corporatin dan pemberontakan melawan kenaikan harga dan memburuknya pelayanan, pemerintah menghentikan dan memutuskan kontrak). Itu adalah "pasar bebas" dengan partner yang tidak seimbang dan banyak kejanggalan pada syarat-syarat yang dicantumkan. Kondisi globalisasi saat ini dibuat oleh manusia, divasilitasi dengan "revolusi informasi" internet dan komputer, tetapi seringkali disampaikan sebagai kejadian yang bersifat natural. Pertanyannya adalah bukan tentang globalisasi itu baik atau buruk, tetapi dalam kondisi apa globalisasi harus diregulasi dan siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan dengan kondisi saat ini. Pasar hanya tahu tentang distribusi barang dan jasa, tetapi tidak paham dengan produksi. Kondisi globalisasi saat ini secara demokratis tidak disetujui, semuanya diseting oleh ahli ekonomi dan politik dari bangsa-bangsa yang lebih kuat (yaitu G7, WTO, dsb) dan para pelobi dari perusahaan multi nasional. (Untuk referensi detil lihat: Harvey, D. 2005, A brief History of Neoliberalism.) Perlawanan pada kondisi ini semakin meningkat.
(Barsambung ke Tulisan 2)