Sabtu, 18 Oktober 2008

Hans Harms 2: Dua Perspektif (dari India dan Eropa) pada Perencanaan Carbon Neutral World, (Tulisan2)

KampungBio: Tulisan 2 dari 7

Meletakkan dasar pemikiran BioVillage
untuk kawan-kawan BScC
(Konferensi SCUPAD 15 – 18 Mei 2008
Hans Harm:

Planning for a Carbon Neutral World: Challengers for Cities and Regions


Group 20plus yang dipimpin Brasil, India, dan China pada tahun 2005 menghentikan konferensi WTO di Cancum Mexico, dan walked out saat negara-negara maju kapitalis memaksa agenda mereka tentang pasar bebas untuk ekspor produk industri mereka dan pelayanan finansial, sementara pada saat yang sama subsidi pasar pertanian yang tinggi di AS dan Uni Eropa tertutup untuk mereka.

Contoh yang lain adalah protes dalam skala besar-besaran dan demo yang terjadi di Meksiko menentang kenaikan harga jagung (sebagai bahan dasar tortilla) dan menentang akibat-akibat dari perjanjian perdagangan NAFTA. Dampak pada pertanian Meksiko menghancurkan pasar lokal dan banyak lagi petani Meksiko dan buruh tani ke dalam AS sebagai imigran ilegal. (Lihat: Anne Vigna, dalam: Le Monde diplomatique, March 2008, p. 18-19).

 

Krisis pemanasan global dan emisi karbon, diikuti dengan krisis keuangan dan kredit, (dilandasi oleh "sub-prime" pinjaman yang sangat besar di AS), saat ini diikuti dengan krisis yang lain yaitu global proporsi: krisis kemiskinan dan bahan pangan yang sangat mengharukan di banyak negara berkembang di Selatan, dan terutama Afrika dan Asia Tenggara, termasuk India. Paradoks dari kejadian itu ternyata dunia telah memproduksi bahan pangan lebih banyak dari sebelumnya, (juga berkaitan dengan pertumbuhan populasi) sekarang ada lebih banyak orang-orang yang kelaparan dari pada 30 tahun yang lalu. Krisis pangan saat ini dengan meroketnya harga-harga telah memprovokasi huru hara karena pangan dan kerusuhan politik di banyak negara.

 

Alasan tentang krisis pangan yang akut saat ini adalah: menurunnya panen pada tahun-tahun terakhir kemarin (dan cadangan bahan pangan yang ada di gudang) akibat dari banjir atau kekeringan yang disebabkan oleh kondisi cuaca (misalnya di Banglades dan Australia), mengurangi luasan tanah pertanian yang memproduksi bahan pangan akibat dari pertumbuhan permintaan biofuel sebagai pengganti bahan bakar fosil atau pertumbuhan tanaman eksport yang menjanjikan uang kontan (cash crops) (seperti kedelai dan jagung untuk makanan ternak untuk produksi daging) dan secara umum juga karena penolakan atau tidak mendukungnya produksi pertanian lokal untuk konsumsi lokal. Kenyataannya bahwa Bank Dunia dan IMF dengan sarannya mempromosikan pertumbuhan cash crops untuk pasar dunia dari pada memenuhi sendiri kebutuhan pangan yang jarang dikemukakan.

 

Komponen tambahan yang penting lainnya pada meningkatnya harga bahan pangan adalah free-floating uang spekulatif (sejak krisis sub-prime kredit), pangan menjadi komoditi perjudian seperti minyak dan padi-padian.

 

Negara-negara sedang berkembang saat ini dalam proses mencoba untuk mencapai produksi dan standar hidup seperti negara-negara kapitalis maju. Dua negara besar di Asia: Cina dan India mencapai laju pertumbuhan ekonomi sangat tinggi (di atas 9%) terutama di daerah perkotaan. Sementara di Cina pertumbuhannya didasarkan pada produksi industri manufaktur dengan emisi CO2 yang tinggi, di India terutama didasarkan pada pertumbuhan jasa baru dan terutama pada industri IT yang melibatkan 1 sampai 2 juta orang atau 0,1 sampai 0,2% dari total populasi. Pertumbuhan dan keuntungan ini sangat sulit terdistribusi ke seluruh daerah di negara tersebut. Para elit pemerintahan di India dan negara-negara lainnya yang didukung oleh IMF dan Bank Dunia, mempromosikan peningkatan industrialisasi besar-besaran dan menolak perluasan untuk mendukung pertanian. Negara-negara tersebut terutama lebih dari dua per tiga dari populasinya sangat tergantung pada pertanian sangat sedikit perhatiannya pada sektor pertanian (Pilipina, Indonesia, dan India).

IMF seringkali banyak permintaannya, ketika pertumbuhan kredit meningkat, mereka meminta negara untuk meregulasi harga pangan, menyediakan kredit usaha kecil untuk petani lokal, dan membantu memberi saran dan pemasaran produk lokal. Semua atas nama mempromosikan "free market" dan dengan asumsi bahwa banyak dari lembaga-lembaga itu yang korup dan tidak efisien. Masalahnya, mereka menghapus tanpa menggantinya dengan yang lebih baik. Apa yang mereka ganti adalah regulasi pasar. Spesialisasi pada petani-petani besar meningkat, dan di banyak daerah yang subur telah digunakan sebagai produksi bahan-bahan eksport besar-besar, dan mengakibatkan meningkatnya transport global dan emisi CO2. Produksi lokal konsumsi bahan pangan yang sustain (tanpa harus melibatkan transportasi yang jauh) telah diabaikan. Demikian juga dengan bantuan pembangunan dari negara-negara industri untuk pertanian di dunia ketiga telah dikurangi dari 6,2 milyar dolar pada tahun 1982 menjadi 2,3 milyar dolar pada tahun 2002. (Lihat: Die Zeit, 17.4. 2008, p.21-23, "Wut im Bauch".) Dampak semua itu adalah , bahan pangan harus diimport dari perusahaan pertanian internasional (yang disubsidi sangat tinggi di negaranya sendiri), dan juga pemotongan harga bahan pangan yang diperoduksi lokal. Hancurnya pasar pertanian lokal dan buruh intensif adalah rantai produksi yang saling terkait, dan mendorong lebih banyak petani miskin akan menyerbu ke kota-kota.

 

Konferensi dan proyek-proyek riset bertarap internasional tentang kota dan megacities difokuskan pada masalah dan kesempatan di daerah perkotaan, di daerah perkotaan produktivitas ekonomi secara keseluruhan sangat besar dibandingkan dengan di daerah pedesaan. Dengan demikian, itu adalah asumsi bahwa daerah pedesaan terabaikan, atau masalah di pedesaan dapat diselesaikan dengan sendirinya oleh migrasi orang-orang desa ke kota (seperti yang sudah terjadi saat industrialisasi di Eropa).

 

Krisis kelaparan dan kenaikan harga bahan pangan saat ini secara langsung mengarah bahwa semua menunjukkan ke daerah pedesaan dan produksi bahan pangan lokal tidak bisa diabaikan, dan teknologi tinggi yang disokong sepenuhnya dengan penggunaan bahan bakar fosil yang tinggi dan rendahnya intensitas penggunaan tenaga manusia dalam model pembangunan pertanian di Utara tidak dapat ditransfer ke Selatan, pada kenyataannya model ini sangat fatal untuk Selatan.

 

Laporan terbaru dari Divisi Kependudukan PBB memperkirakan bahwa akan ada 27 megacities dengan paling sedikit 10 juta penduduk pada pertengahan abad ini, bandingkan dengan 19 areal raksasa metropolitan saat ini. Tetapi ini juga bisa dikatakan paling sedikit setengah dari pertumbuhan di kota di masa yang akan datang akan menjadi kota yang lebih kecil dari yang sekarang. Memiliki lebih kecil dari 500.000 orang. Karena urbanisasi Cina yang sangat cepat, itu akan diperkirakan menjadi 50% urbanisasi yang ada pada sekitar tahun 2020-2025. Itu adala 40% dari urbanisasi saat ini. Sebaliknya, bangsa India yang mempunyai jumlah populasi terbesar ke dua di dunia (hampir mencapai 1,2 milyard penduduk) hanya sepertiga penduduknya ada di kota (300 juta) dan lebih dari 800 juta adalah penduduk pedesaan (71%). India pada tahun 2050 diperkirakan (menurut perkiraan saat ini) akan memiliki 900 juta orang (55%) yang hidup di kota. Hal ini berarti akan bertambah 600 juta orang lebih dibandingkan dengan sekarang. Pada saat yang sama kita tidak mengetahu bagaimana orang sebanyak itu akan berkumpul di dalam kota dan seperti apa kondisi kehidupan mereka nantinya. Saat ini dari 35 sampai 50% orang hidup di lingkungan kumuh perkotaan dengan pendapatan yang amat sangat sulit, tidak bisa menjadi model untuk masa depan.

 

(Bersambung ke Tulisan 3..)