Sabtu, 18 Oktober 2008

Hans Harms 7: Dua Perspektif (dari India dan Eropa) pada Perencanaan Carbon Neutral World, (Tulisan7)

KampungBio: Tulisan 7 dari 7

Meletakkan dasar pemikiran BioVillage
untuk kawan-kawan BScC
(Konferensi SCUPAD 15 – 18 Mei 2008
Hans Harm:

Planning for a Carbon Neutral World: Challengers for Cities and Regions

Kesimpulan

 

Laporan dari PBB tentang masa depan pertanian telah mengkaji secara berbelit-belit mengenai masalah yang dihadapi pertanian global, perubahan iklim, kelaparan, kemiskinan, kekuasaan dan pengaruhnya. Semua itu menunjukkan kesalahan dan bahayanya industri pertanian, termasuk penggunaan bahan bakar fosil yang amat sangat tinggi untuk kapal pengangkutan bahan pangan ke seluruh penjuru dunia lewat laut dan udara.

 

Sebaliknya pengalaman dan kegiatan pertanian di Selatan India yang memproduksi bahan pangan secara ramah lingkungan yang tidak perlu diangkut jauh-jauh dan mempromosikan sensitifitas dalam penggunaan sumber daya, dan membangun rasa untuk memperbaiki "metabolisme pedesaan". Sampah menjadi berkurang, begitu juga input dari sumber daya yang tidak terbarukan.

 

Konsep baru pembangunan telah dieksplor dan diterapkan. Meskipun teknologi tinggi dan efisiensi ekonomi dari satu sisi dan penggunaan tenaga manusia yang rendah, seorang manusia, keluarga, dan komunitas lokal sebagai pusat harus digunakan sebagai model pembangunan. Model di Kerala didasarkan pada konsep yang dikembangkan oleh David C. Korten yang didefinisikan sebagai: "suatu proses yang melibatkan anggota masyarakat untuk meningkatkan kapasitas personal dan kelembagaannya untuk memobilisasi dan mengelola sumber daya mereka untuk produksi secara berkelanjutan dan menyebarkan perbaikan kualitas kehidupan mereka yang konsisten dengan aspirasinya sendiri." Itu mungkin sangat idealis dan mungkin sulit dicapai, tetapi sebagai sebuah tujuan, itu sungguh benar.

 

Dalam pengaruh kondisi pemanasan global dan krisi kelaparan, dibutuhkan perubahan struktural dalam ekonomi pertanian yang sulit diikuti dengan perubahan mendalam dari kenyataan bahwa ekonomi manufaktur global dalam bentuk nilai tambah global yang tersebar secara global berkaitan dengan kebutuhan tinggi akan transportasi, didominasi oleh 'pemain global' (seringkali diungkapkan sebagai perusahaan internasional) dan terutama terletak di daerah metropolitan sebagai lokasi favorit. Produksi pertanian membutuhkan banyak lagi tempat dan berkaitan dengan alam secara langsung dan berkaitan dengan tanah dan iklim yang spesifik.

 

Saya akan mengakhiri dengan sedikit observasi dan statement dari Vandana Shivas dalam penutupan Konferensi Soil Association pada tahun 2007 yang berjudul. "Menghilanhkan Minyak dari Pertanian" –"Taking the oil out of agriculture".

 

Dia membagi antara "pertanian ekonomi bahan bakar fosil" dan "pertanian ekonomi keanekaragaman hayati". Dia mengatakan bahwa yang satu adalah "ekonomi pembunuh" dan satunya adalah "ekonomi kehidupan". ""Satunya adalah pertanian di bumi yang mengatur proses di bumi dan satunya adalah pertanian di bumi yang memperkecil dunia menjadi super market. Mencari yang lebih murah dari tempat yang jalannya lebih jauh dengan pabrik makanan yang lebih lama".

 

Studi yang dilakukan di Denmark menunjukkan bahwa dalam memproduksi bahan pangan dibutuhkan kalori lebih dari 10 kali dari pada kita mendapatkan bahan pangan yang sudah jadi. Shiva menyatakan, produktivitas yang tinggi dari pertanian besar adalah mitos, konsentrasi kepemilikan lahan tidak langsung merupakan produktifitas yang tinggi, bahkan sebaliknya. Semakin kecil lahan semakin banyak yang bisa Anda produksi (per acre) karena Anda bisa lebih banyak memberi perhatian.

 

Jadi dia bertanya, di mana Utara dan Selatan bisa bertemu?

 

"Utara membutuhkan pengurangan minyak dan bahan kimia. Selatan harus menekan kecanduan yang sama dengan kekuatan yang sama yang membuat kecanduan Utara pada bahan bakar fosil. Di Selatan para petani dicengkeram untuk keluar dari lahan pertanian, dan mereka berkata: Kami tidak akan pernah menyerah untuk bertani, ini bukan kemunduran. Kami menemukan ini kebanggaan mendapat penghasilan dari kehidupan yang adil melalui kerja keras. Jadi, kerja keras terlihat sebagai kemunduran, sebagai masyarakat adat, petani dan nelayan berkata: jangan desak kami keluar. Tetapi suara mereka itu suara marjinal.

 

Masa depan dunia pertanian adalah menghasilkan lebih banyak makanan yang bervariasi, secara lokal untuk mengurangi transport dan mengganti bahan bakar fosil dengan bahan bakar yang dapat terbarukan, termasuk tenaga manusia. Untuk pertama kali setelah 500 tahun sejak kolonialisme membagi dunia menjadi dua Utara dan Selatan, penjajah dan yang dijajah, untuk pertama kali kami mempunyai kesempatan menjadi satu keluarga, menerapkan 'pertanian satu tanaman".

 

Utara dan Selatan membutuhkan usaha yang sama hanya dimulai di tempat yang berbeda. Tetapi kita harus mengakhirinya ketika kita hidup dalam keterbatasan planet ini, hidup dan bekerja dengan tanah dengan cara diorganisir yang mungkin merupakan cara yang sudah sangat banyak berubah dan dengan status sebagai manusia, dan bukan sesuatu yang harus hilang dalam debu-debu sejarah."

 

~~~~~~

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kawan-kawan Biological Science Club – (BScC) UNAS