| KampungBio: Tulisan 4 dari 7 Meletakkan dasar pemikiran BioVillage Planning for a Carbon Neutral World: Challengers for Cities and Regions |
Apa yang harus dilakukan?
Kaitan masalah antara perkotaan dan pedesaan perlu dianalisa secara global, tetapi dalam kaitannya dengan manifestasi perbedaan yang ditunjukkan oleh lokal. Sangat penting untuk mempertimbangkan variasi situasi pedesaan lokal yang sangat besar, akar budaya mereka dan asal usul mereka, dan untuk mengembangkan solusi lokal yang dapat diterima pada kondisi lokal dan dengan partisipasi para actor lokal. Menyeragamkan dan menduga-duga bahwa regulasi global 'tepat untuk semua' untuk suatu dugaan 'pasar bebas' produk pertanian yang disusun oleh organisasi internasional harus segera diubah. Sistem regulasi saat ini mustahil dan sangat tidak adil serta memberi dampak kontra produktif:
Perbedaan paradigma produksi pertanian, pertukaran, dan konsumsi diperlukan untuk tujuan seperti:
Tujuan tersebut secara global masih relevan, tetapi sangat penting terutama untuk negara-negara sedang berkembang karena masih sangat banyak populasi yang tinggal di daerah pedesaan, dan merupakan tempat tenaga kerja yang memungkinkan secara formal diorganisir untuk pekerjaan di perkotaan yang sudah berkurang sangat banyak dan ekonomi orang-orang migrant dari pedesaan di kota yang secara informal sulit umumnya hidup dalam situasi yang buruk.
Pertanian di Eropa dan AS juga harus berubah. Dibutuhkan struktur subsidi yang berbeda terutama yang bisa mendukung ekosistem dan keluarga petani yang ramah lingkungan, serta mendukung pelestarian lingkungan. Sistem subsidi saat ini sangat menguntungkan industri pertanian skala besar, industri kimia, dan jaringan toko dan supermarket yang besar, semuanya harus diubah. Komisi Pertanian Uni Eropa setiap tahun mendistribusikan 50 milyar Euro untuk petani Eropa, rencananya itu akan tetap berjalan sampai tahun 2013. Mereka semua memahami tentang krisis kebijakan subsidi tersebut, dan mulai mereformasi pada tahun 2003. Subsidi untuk meningkatkan produksi diubah dengan pendekatan baru yang lebih menjadi peduli dan melindungi lingkungan. Akan tetapi lobi para petani termasuk menteri pertanian Jerman menentang beberapa kriteria ekologi untuk pertanian dan juga menentang pengurangan subsidi untuk industri pertanian skala besar. (Lihat: Die Zeit, Nr. 19. 30.4. 2008, p.25. Schuld am Elend)
Pada bulan April tahun ini, PBB mensponsori dibuatnya final report on the future of agriculture yang telah diluncurkan dengan publikasi yang sangat luas di media internasional. Konferensi di Johannesburg telah mencapai puncak kerja selama empat tahun dengan 400 ahli pertanian, termasuk wakil dari organisasi-organisasi lokal. Robert Watson, penasehat tertinggi dari pemerintahan Inggris dalam mempertanyakan iklim dan lingkungan, telah menjadi direktor IAASTD, International Assessment of Agriculture Science and Technology for Development. Evaluasi yang bijaksana untuk ratusan studi telah menjawab kontroversi mengenai teknologi genetic dan ekologi produksi dalam pertanian dan mengajukan rekomendasi mengenai cara penelitian yang terbaik untuk membantu petani di negara-negara sedang berkembang. Pada akhirnya, internasional konferensi di bawah bantuan beberapa badan PBB dan Bank Dunia, ilmuwan, para activist, NGO, perusahaan, dan perwakilan pemerintah, bertemu selama hampir satu minggu di Afrika Selatan untuk berdebat mencari solusi dan consensus dari masalah yang rumit dan menjengkelkan dari pertanian global, perubahan iklim, kelaparan, kemiskinan, kekuatan dan pengaruh. Pada hari terakhir, 55 negara menyetujui IAASTD final report, mengatasi kesulitan negosiasi dan menerima kedatangan wakil dari industri kimia pertanian.
Laporan yang disetujui adalah perhitungan yang bijaksana mengenai kesalahan industri pertanian. Menghimbau agar dilakukan perubahan yang mendasar pada cara-cara bertani yang sudah berjalan selama ini, memberi harga bahan pangan, mengatasi kelaparan, ketidak adilan sosial, dan bencana lingkungan.
(Bersambung ke Tulisan 5 )